Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon - Mandri #18

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon - Mandri #18

12 Oktober 1902

Telah sejak setahun saya mendengar sesuatu tentang diri saya yang membuat saya sedih. Katanya saya genit. Jawab dengan jujur: banyak tingkahkah saya? Kalau ya, dalam hal apa? Saya sedih karenanya, sebab saya tidak mau ada sesuatu yang tidak patut pada diri saya atau di sekitar saya.

Seseorang yang bukan orang yang suka mempercakapkan orang lain mengatakan, bahwa saya berbicara menggunakan mata saya. Betulkah itu? Saya telah minta pada adik-adik untuk memperhatikan tingkah laku saya. Lalu saya tanyakan, keistimewaan apa yang mereka lihat dan apa yang tampak dalam gerak mata saya? Dan adik-adik yang jujur dan selalu tahu mengatakan bahwa mata saya bersinar-sinar apabila saya banyak berbicara dengan siapapun.

Percayalah, bahwa hal itu saya perbuat tidak dengan sengaja. Dan saya tidak pernah memikirkan dengan apapun untuk menarik perhatian. Dan kalau saya berbuat sesuatu seperti yang emreka tafsirkan, hal itu saya perbuat tanpa sadar.

Rasanya aneh jika orang yang selama ini mengira sebagai gadis yang serius dan baik-baik, lalu sekonyong-konyong mendengar bahwa ia makluk yang banyak tingkah. Saya tercengang, lalu menjadi sedih seketika itu.
Orang ingin agar saya menundukkan mata dengan susila, saya tidak mau!

Saya ingin melihat orang-orang di dalam matanya. Tidak menundukkan mata untuk mereka, juga tidak menatap kepada matanya.

Nyonya sudah tahu, betapa selama ini kami tak menghiraukan apa yang dikatakan orang. Tetapi dalam hal ini orang tidak boleh dan jangan sekali-sekali mengatakan, "Nah, itulah, begitulah jadinya kalau anak-anak perempuan itu mendapat didikan Eropa!"

Pandangan seperti itu akan mengakibatkan kerugian yang tak terhingga. Faktanya, dalam suka dan duka kami selalu bersama bangsa Eropa. Apa yang saya perbuat sekarang? Tidakkah orang-orang Eropa turut menghayati perasaan kehidupan jiwa kami yang sedalam-dalamnya?

Orang dapat merampas banyak dari kami, ya semuanya, tapi jangan pena saya. Ini tetap milik saya, dan saya akan berlatih dengan rajin menggunakan senjata itu. Janganlah kami terlalu banyak diusik sebab kesabaran yang sesabar-sabarnya akhirnya akan habis juga. Oleh karena itu kami akan menggunakan senjata itu, walaupun kami sendiri akan terluka karenanya.

back to top