Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon-Mandri #14

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon-Mandri #14

8 April 1902

Belajar pada usia yang sudah matang ada pulalah keuntungannya. Kami sekarang mengerti jauh lebih baik dan memahami segala sesuatu. Dan, banyak hal yang dulu bagi kami mati sekarang menjadi hidup. Kami tertarik terhadap sangat banyak hal yang dulu tidak kami pedulikan, semata-mata hanyalah karena: kami tidak mengerti.

Alangkah bahagia kami apabila sekarang ada seseorang yang dapat menerangkan hal-hal yang sangat menarik itu kepada kami! Guru-guru yang diam itu sekarang harus menjawab semua pertanyaan kami.

Saya telah banyak memikirkan hal yang dikatakan orang: "hidup senang". Pada banyak hal yang saya lihat hari-hari terakhir, dengan tidak sengaja terpikir oleh saya ungkapan itu. Dan saya tersenyum mengejek. Aduhai, nyonya sayang! Bukan sekali ini dan tidak akan sekali ini saja, bahwa ada sesuatu yang ditutup-tutupi, dipungkiri! Dunia ini masih senantiasa teramat sopan. Tidak mau melihat kenyataan yang telanjang bulat. Memalingkan muka dengan penuh rasa jijik dari kenyataan....

Tadi siang kami demikian terharu oleh suatu contoh kesengsaraan hidup. Seorang anak berumur 6 tahun menjual rumput. Anak itu tidak lebih besar daripada kemenakan kami yang kecil.Bocah itu sama sekali tidak tampak, seolah-olah hanya ada dua gundukan rumput berjalan. Ayah menyuruhnya datang dan di situ kami mendengar cerita.

Seperti ratusan, kalau tidak ribuan lainnya, anak itu tidak berayah. Ibunya pergi bekerja. Di rumah masih ada dua orang adik. Ia anak sulung. Kami bertanya apakah ia sudah makan. "Belum."

Mereka hanya makan nasi sehari satu kali, yakni pada waktu malam ketika ibunya datang. Sore mereka makan kue tepung aren sehargas sepeser. Dari penjual kecil itu, saya melihat kepada kemenakan saya, sebesar dia. Saya ingat apa yang kami makan tiga kali sehari. Dan hal itu bagi saya sangat asing, sangat aneh rasanya! Kami memberinya makan, tapi tidak dimakannya; nasi itu dia bawa pulang.

Pandangan saya membututi si buyung yang bersenjatakan pikulan dan pisau rumput, sampai akhirnya dia tidak tampak lagi. Sungguh suatu hal yang tidak terpikirkan dalam benak dan hati saya!

Saya malu sekali memikirkan kepentingan pribadi. Saya berpikir-pikir dan melamun tentang keadaan saya sendiri dan di luar, di sekeliling saya demikian banyaknya orang yang hidup menderita dan sengsara. Seolah-olah udara tiba-tiba bergetar disebabkan oleh suara orang-orang menderita di sekeliling saya yang menjerit, mengerang dan mengeluh.

Lebih keras dari suara mengerang dan mengeluh, terdengar bunyi mendesing dan menderau dalam telinga saya: Bekerja! Bekerja! Bekerja!

Berjuanglah membebaskan diri! Baru setelah kamu bekerja membebaskan diri, akan dapatlah kamu menolong orang lain. Bekerja! Suara itu saya dengar nyaring sekali, tampak tersurat di hadapan saya sehingga harus saya tulis untuk nyonya, karena nyonya sungguh-sungguh turut merasakan dan turut menghayati suka-duka kami.

back to top