Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nona Estella Zeehandelaar #12

Surat Kartini: Kepada Nona Estella Zeehandelaar #12

11 Oktober 1901

Adapun sekarang, wahai teman setia, saya akan bercerita kepadamu. Tentu saja benar-benar dari hati ke hati tentang berbagai hal mengenai rencana kami. Jalan bagi kami untuk berdiri sendiri akan terbuka. Dengan demikian kami dapat mengabdikan diri kepada sesama manusia seperti dokter, bidan, guru, pengarang, ahli dalam berbagai seni rupa. 

Kamu tahu, bahwa pemerintah --dalam hal ini diusahakan oleh Direktur Pengajaran, Ibadah dan Kerajinan-- sedang membuat rencana untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan Bumiputera. Sebagai percobaan akan didirikan sekolah lengkap dengana asrama bagi anak-anak perempuan pembesar-pembesar Bumiputera.

Istri direkturnya bertanya apakah saya mau menjadi guru pada sekolah-sekolah itu? Saya suka, suka sekali, tapi saya tidak dapat menjalankan tugas itu karena saya tidak dididik dan tidak cakap untuk tugas itu. Kata nyonya itu, saya harus masuk salah satu sekolah di Betawi menjadi guru. Bahwa ayah saya menyetujui usul itu, kamu sudah tahu. Maka saya akan pergi ke Betawi.

Kamu tahu kegemaran saya terhadap kesusastraan, dan tentu tahu juga bahwa saya bercita-cita menjadi pengarang yang berarti.

Akan tetapi orang tidak dapat mewujudkan dua cita-cita sekaligus. Setidak-tidaknya saya tidak melihat kemungkinan menjadi guru. Tapi, menurut pendapat saya pengajaran, pendidikan anak-anak yang dipercayakan kepada kami itu suatu perkara yang sungguh-sungguh. Bahkan teramat suci sehingga saya tidak akan puas bila merasa tidak mampu mengerjakannya dengan baik. Sebagai guru pada sekolah berasrama sepanjang hari saya harus mengasuh anak-anak.

Ada lagi jalan lain yang terbuka bagi kami. Seorang dokter paderi yang secara pribadi belum kami kenal, seorang yang ternama dan disegani, yang banyak mendengar tentang kami, dengan kehendaknya sendiri menawarkan kepada kami apabila mau, untuk mendidik kami menjadi bidang dengan cuma-cuma. Dari pihak lain ada juga yang menawarkan kesempatan semacam itu. Kami sangatlah berterima kasih atas tawaran-tawaran itu.

Bidan di Hindia sini sangat dibutuhkan. Tiap tahun di Jawa atau seluruh Hindia Belanda ini, rata-rata 20 ribu orang perempuan mati beranak, dan 30 ribu anak lahir meninggal karena pertolongan bagi perempuan bersalin yang kurang memadai.

Kembali ke soal rencana kami, untuk melaksanakan rencana kami itu kami hanya menunggu izin ayah saja. Stella, maafkanlah seorang ayah yang bimbang melepaskan anak-anaknya kepada nasib yang tidak tentu. Sebagai perintis jalan yang pertama, kami harus memberantas perlawanan dan prasangka semua orang. Orangtua manakah yang tidak begitu mengharap untuk melindungi anak-anaknya dari dukacita?

Saya tidak tahu apakah saya akan pergi juga untuk belajar ke negeri Belanda bila kesempatan itu saya dapatkan. Sekarang ayah sangat lemah, harus sering dijaga dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Katakan hal itu sebagai suatu perkara kecil. Tapi Stella, saya tidak akan dapat tenang sekejap pun apabila saya tahu ayah menderita dan memerlukan pertolongan, sedangkan saya jauh darinya memenuhi panggilan saya!

Salah satu cita-cita yang hendak saya sebarkan adalah: hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya. Masalahnya sekarang bagaimana sebisanya menyelaraskan dua kewajiban besar itu. Penyelesaian sementara: saya merawat ayah tapi tidak juga mengabaikan pelajaran. Di rumah saya mempelajari sendiri tentang ilmu keguruan, sejauh yang dapat dipelajari sendiri.

back to top