Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nona Estella H. Zeehandelaar #3

Surat Kartini: Kepada Nona Estella H. Zeehandelaar #3

6 November 1899

Saya tidak akan, sekali-kali tidak akan dapat jatuh cinta. Untuk mencintai seseorang menurut pendapat saya harus ada rasa hormat dulu. Dan saya tidak dapat menghormati pemuda Jawa. Bagaimana saya dapat menghormati seseorang yang sudah kawin dan sudah menjadi bapak, yang apabila sudah bosan kepada ibu anak-anaknya, dapat membawa perempuan lain ke dalam rumahnya dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam.

Ajaran Islam mengizinkan kaum laki-laki kawin dengan 4 orang wanita, tapi selama-lamanya saya tetap menganggapnya sebagai dosa. Semua perbuatan yang menyebabkan manusia menderita saya anggap sebagai dosa. Dan dapatkah kamu membayangkan siksaan yang harus diderita seorang perempuan jika suaminya pulang dengan wanita lain sebagai saingannya yang harus diakuinya sebagai istrinya yang sah? Semua untuk kaum laki-lakin dan tak ada sesuatu pun untuk kaum perempuan.

Betapa pahit kekecewaan saya dalam hal ini. Mengertikah kamu sekarang apa sebab saya begitu benci perkawinan? Pekerjaan yang serendah-rendahnya akan saya kerjakan dengan rasa syukur dan rasa cinta, asal saya bebas dari keharusan kawin. Tapi saya tidak boleh mengerjakan sesuatu, sama sekali tidak boleh, mengingat kedudukan ayah dalam masyarakat.
Aduh, Stella, tentu kamu dapat merasakan betapa sedihnya menginginkan sesuatu dengan sungguh-sungguh tapi kamu merasa tak berdaya untuk mencapainya?

Apakah sekarang kamu mengerti mengapa saya ingin sekali menguasai bahasamu yang bagus itu? Saya mengirimkan kepadamu karangan dari Sumbangan Lembaga Kerajaan untuk Ilmu Bumi, Bahasa dan Bangsa-bangsa di Hindia. Karangan itu aku tulis kira-kira 4 tahun yang lalu dan saya tidak pernah membacanya lagi. Hingga baru-baru ini saya temukan kembali ketika saya merapi-rapikan kertas-kerta lama. Ayah kebetulan diminta bantuan oleh pengurus lembaga tersebut. Ayah mengirimkan tulisan itu, dan setelah beberapa lama saya menerima banyak sekali kiriman cetakan ulang. Saya kira, barangkali kamu ada minat untuk membacanya, karena itu saya kirimi satu eksemplar.

Karangan mengenai batik-membatik, yang saya tulis tahun lalu untuk pameran Karya Wanita, dimuat dalam karya standar mengenai batik-membatik yang akan segera terbit. Senang juga ketika hari-hari itu saya mendengar kabar yang tak terduga mengenai hal itu. Saya sama sekali sudah lupa.

Lalu kamu bertanya, bagaimana mulanya saya terkurung dalam tembok itu.

Kamu pasti membayangkan bilik penjara atau semacam itu. Tidak, Stella, penjara saya adalah rumah besar dengan halaman luas di sekelilingnya. Tapi dilingkari dinding tinggi yang mengurung saya. Walaupun luas rumah dan halaman kami, namun bila kami harus selalu tinggal di situ, akhirnya sesak juga rasanya. Teringat oleh saya karena putus asa yang tidak terkira, berulang kali saya mengempaskan badan pada pintu yang selalu tertutup dan pada dinding batu yang dingin itu. Ke arah mana pun saya pergi, akhirnya saya sampai pada dinding batu dan pintu terkunci!

Untunglah bahwa saya selalu berpengharapan baik dan tidak lekas putus asa. Perubahan dalam seluruh dunia Bumiputra kami akan terjadi; titik baliknya sudah ditakdirkan. Tapi kapan? Itulah masalahnya. Kita tidak dapat mempercepat jam revolusi. Mengapa kami di dalam rimba ini, di daerah pedalaman jauh, di ujung negeri, mempunyai pikiran memberontak begitu? Teman-teman saya di sini berkata, bahwa lebih bijaksana bagi kami jika kami tidur dulu 100 tahun, dan begitu bangun, Jawa sudah sampai sejauh yang kami inginkan.

back to top