Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nona Estella H Zeehandelaar #2

Surat Kartini: Kepada Nona Estella H Zeehandelaar #2

18 Agustus 1899

Apakah saya seorang anak raja? Bukan. Raja terakhir dalam keluarga kami, yang langsung menurunkan kami menurut garis keturunan laki-laki, saya kira sudah berlalu 25 keturunan jauhnya. Ibu masih bersaudara dekat dengan keluarga raja Madura. Moyangnya raja yang bertahta dan neneknya ratu mahkota.

Tapi itu semua tidak kami pedulikan. Bagi saya hanya ada dua macam kebangsawanan: bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut "keturunan bangsawan" itu.

Saya masih ingat bagaimana kami marah, ketika tahun lalu wanita-wanita di Den Haag pada Pameran Karya Wanita memanggil kami "puteri-puteri Jawa".

Di negeri Belanda rupanya orang mengira bahwa semua yang datang dari Hindia, kalau bukan "babu" atau "penjaga pintu", pastilah seorang puteri atau putera bangsawan. Kerap saya menjadi putus asa karenanya. Saya tidak tahu berapa kali saya mengatakan kepada mereka bahwa kami bukan puteri-puteri raja.

Baru-baru ini datang seorang Belanda, tampaknya mendengar sesuatu tentang kami, lalu setidak-tidaknya ia minta kepada orangtua kami agar boleh diperkenalkan kepada "puteri-puteri".

"Bupati," ujarnya berbisik kepada ayah, tetapi cukup jelas untuk kami dengar. Dari suaranya terdengar kekecewaan besar. Katanya, "Saya membayangkan pakaian puteri-puteri begitu gemerlap, keindiah Timur yang luar biasa...tapi anak-anak Tuan sederhana sekali."

Dengan susah payah kami menahan senyum ketika mendengar itu.

Stella yang manis, saya sungguh senang telah kamu anggap dan kamu perlakukan seperti teman-teman Belanda-mu dan kamu anggap kawan sepaham. Harapan saya selalu, agar kamu senantiasa memanggil nama saya dan tetap ber-"engkau-kamu" kepada saya. Lihat, betapa baiknya saya mengikuti contohmu.

Kalau dalam surat saya sebelumnya kamu menjumpai kata 'saudara' atau 'nona', maka jangan anggap itu sebagai formalitas, tapi semata kekeliruan.

Saya juga membenci formalitas. Untuk apa saya mematuhi peraturan-peraturan adat itu? Saya gembira bahwa pada suatu ketika dapat melepaskan adat sopan-santun Jawa yang rumit itu --setelah saya berbicara dengan kamu di atas kertas.
Untuk sekedar memberi gambaran kepada kamu betapa rumitnya etiket kami, saya akan ceritakan sedikit...kalau anak perempuan berjalan, maka ia harus melakukannya dengan pelan-pelan, dengan langkah pendek-pendek, sopan, aduh...seperti siput. Kalau berjalan agak cepat, maka akan dikatai seperti kuda berlari.

Saya sendiri disebut "kuda kore", kuda liar, karena saya jarang berjalan pelan melainkan selalu pecicilan. Dan, karena suatu dan lain hal lagi saya dikatai juga, sebab saya sering sekali tertawa terbahak-bahak dan memperlihatkan banyak gigi; itu dianggap perbuatan tidak sopan.

Terimakasih, Stella atas pikiranmu yang baik sekali mengenai kami orang-orang Jawa. Memang dari kamu saya tidak mengharap apa-apa kecuali pendapat bahwa semua manusia, baik berkulit putih maupun coklat adalah sama. Meskipun orang Jawa bodoh, tidak berpengetahuan, tidak beradab, orang-orang seangkatanmu akan tetap memandang mereka sebagai sesama manusia juga. Mereka juga memiliki kalbu dalam tubuhnya dan peka untuk rasa haru.

back to top