Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Estella H. Zeehandelaar #1

Surat Kartini: Kepada Estella H. Zeehandelaar #1

Jepara, 25 Mei 1899

Saya ingin sekali berkenalan dengan "gadis modern", yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang dan gembira, penuh semangat dan keasyikan. Gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan sesama manusia.

Hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan zaman baru. Ya, bolehlah saya katakan bahwa dalam pikiran dan perasaan, saya tidak turut menghayati zaman Hindia ini. Tapi, saya merasa hidup sezaman dengan saudara-saudara saya perempuan berkulit putih di Barat yang jauh.

Tetapi adat kebiasaan yang sudah beradab-abad, yang tidak dapat begitu saja dirombak, telah membelenggu kami dengan tangannya yang kuat. Suatu ketika tentulah tangan itu akan melepaskan kami. Tapi, saat-saat seperti itu masih jauh --tak terhingga jauhnya! Masa itu pasti datang, saya tahu.

Tapi, mungkin baru tiga-empat keturunan sesudah kami. Aduh!

Bukan hanya suara dari luar saja, dari Eropa yang beradab yang datang masuk ke hati saya, yang membuat saya menginginkan perubahan. Sudah sejak saya masih kanak-kanak, ketika kata 'emansipasi' belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, dan tulisan serta karangan mengenai hal itu jauh dari jangkauan saya, sudah timbul dalam diri saya keinginan yang makin lama makin kuat. Yaitu, keinginan akan kebebasan, kemerdekaan, berdiri sendiri. Keadaan yang berlangsung di sekeliling saya, yang mematahkan hati saya dan membuat saya menangis karena sedih yang tak terhingga, membangunkan kembali keinginan itu.

Tapi, tentang hal itu untuk sementara sampai di sini saja dulu...pada kesempatan lain akan saya sambung. Sekarang saya hendak menceritakan tentang diri saya, sebagai perkenalan. Saya anak perempuan sulung Bupati Jepara. Tepatnya anak perempuan yang ke-2. Saya punya 5 orang saudara laki-laki dan perempuan. Almarhum kakek saya, Pangeran Ario Tjondornegoro dari Demak, yang sangat menyukai kemajuan, adalah bupati di Jawa Tengah yang pertama membuka pintunya untuk tamu dari jauh seberang lautan, yaitu peradaban Barat.

Semua puteranya, yang hanya megenyam pendidikan Eropa, mewarisi cintanya akan kemajuan dari ayah mereka. Dan, mereka pada gilirannya memberikan kepada anak-anak mereka pendidikan yang sama dengan yang dulu mereka nikmati. Kebanyakan saudara sepupu saya dan semua kakak laki-laki saya tamat HBS --lembaga pendidikan tertinggi yang ada di Hindia sini. Dan yang paling muda dari tiga kakak laki-laki saya, sejak 3 tahun lebih berada di Belanda untuk menyelesaikan pelajarannya, yang 2 orang lainnya bekerja pada pemerintah.

Kami, anak-anak perempuan yang masih terantai pada adat istiadat lama, hanya boleh memanfaatkan sedikit saja dari kemajuan di bidang pendidikan itu. Ketahuilah, adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah. Dan, satu-satunya lembaga pendidikan yang ada di kota kecil kami hanyalah sekolah rendah umum biasa untuk orang-orang Eropa. Pada umur 12 tahun saya harus tinggal di rumah. Saya harus masuk "kotak', saya dikurung di dalam rumah, sama sekali terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh keluar lagi selama belum berada di sisi seorang suami, seorang laki-laki asing sama sekali, yang dipilih orangtua tanpa setahu kami.

Suatu kebahagiaan besar bagi saya bahwa saya masih boleh membaca buku-buku Belanda dan berkirim-kiriman surat dengan teman-teman Belanda. Semua itu merupakan satu-satunya titik terang dalam masa yang sedih dan suram itu. Dua hal tersebut bagi saya merupakan segalanya. Tanpa dua hal itu barangkali saya akan binasa atau bahkan lebih dari itu jiwa saya akan mati. Tetapi semangat zaman...di mana-mana memperdengarkan langkahnya. Gedung-gedung tua yang kokoh megah, pilarnya menjadi goyah ketika zaman itu mendekat. Pintunya yang dipalang kuat-kuat meledak terkuak. Sebagian seakan terbuka sendiri, sedang lainnya dengan susah payah. Tapi pintu-pintu itu akhirnya akan terbuka juga, membiarkan masuk tamu yang tak disukainya.

Akhirnya, pada umur 16 tahun untuk pertama kalinya saya melihat lagi dunia luar. Alhamdulillah! Alhamdulillah! Saya boleh meninggalkan penjara saya sebagai orang bebas dan tidak terikat pada seorang suami yang dipaksakan kepada saya.
Tapi saya tidak puas, sama sekali masih belum puas. Lebih jauh, masih lebih jauh dari itu yang saya kehendaki. Bukan, bukan perayaan, bukan bersuka-sukaan yang saya inginkan, yang menjadi tujuan keinginan saya akan kebebasan. Saya ingin bebas agar saya boleh dan dapat berdiri sendiri, tidak perlu tergantung pada orang lain, agar....agar tidak harus kawin!

Tetapi kami harus kawin, harus, harus! Tidak kawin adalah dosa, cela paling besar yang ditanggung seorang gadis Bumiputra dan keluarganya. Dan, mengenai perkawinan di sini, aduh, azab sengasara masih merupakan ungkapan yang terlalu halus untuk menggambarkannya. Bagaimana tidak, kalau hukumnya dibuat untuk orang laki-laki dan tidak ada sesuatu pun untuk perempuan, kalau hukum dan pendidikan keduanya untuk laki-laki belaka?

Cinta? Apa yang kami tahu tentang cinta? Saya belum mengatakan umur saya kepada Saudara. Bulan yang lalu saya baru saja 20 tahun. Aneh, bahwa ketika saya berumur 16 saya memandang diri tua sekali dan kerap berhati murung. Dan sekarang setelah saya melampuai umur 20 tahun, saya merasa muda sekali dan penuh gairah hidup.

Panggil saya Kartini saja --itulah nama saya. Kami orang Jawa tidak mempunya nama keluarga. Kartini adalah nama keluarga dan sekaligus nama kecil saya. Dan mengenai Raden Ajeng, dua kata itu menyatakan gelar. Dan menulis 'nona' atau sejenis itu di depan nama, saya tidak berhak --saya hanya orang Jawa.

back to top