Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Surat cinta untuk rezim pendidikan

Surat cinta untuk rezim pendidikan

Kepada yang terhormat rezim-rezim pendidikan. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, kita semua dapat menghirup udara kemerdekaan. Berkat ridhoNYA pula, penjajahan di atas bumi tercinta ini berhasil dihapuskan puluhan tahun lamanya dengan daya perjuangan yang tiada terkira.

Oleh sebab itulah, siapapun yang terpilih menjalankan suatu rezim pendidikan senantiasa meniatkan dirinya mengabdi bagi kepentingan semua orang. Plus, berbakti di atas semua golongan. Sudahkah hal ini diamalkan ?

Bukan kapasitas saya menyimpulkan jawaban kepastian. Karena, semua proses pendidikan tengah berlangsung dan tak kunjung usai. Nyatanya, setiap ganti pucuk pimpinan perubahan sistem pendidikan menjadi keniscayaan. Tetapi, tradisi feodal tidak serta-merta tumbang. Ia selalu mencari jalan keluar. Agar, warisan kolonial itu dapat bertahan dengan modifikasi tampilan-tampilan. Kondisi demikian terasa sangat menyulitkan kultur egaliterian dilakukan secara leluasa di antara agen-agen pendidikan.

Wahai rezim-rezim pendidikan, tahukah kalian dengan Sartre ? Dialah salah satu pemikir dan sosok intelektual kenamaan pada abad ke-20. Perawakannya kecil, bermata juling. Kehidupannya tak lepas dari pipa rokok di tangan. Bahkan, di saat dia mengajar.

Murid-muridnya menggambarkannya sebagai sosok guru yang unik, membebaskan, penuh kehangatan, dan egaliterian. Tatkala memulai proses pendidikan di ruang kelas, dia kerap mencurahkan semangat pencarian jati diri kepada murid-muridnya seraya berkata: “jangan pergi ke sekolah dengan buku filsafat, datanglah dengan otak terbuka”.

Kehidupan pribadinya memang dikenal kontroversial. Sering dikait-kaitkan pula dengan kisah segi tiga percintaan. Tetapi, pewarta media lebih memilih meminta komentarnya daripada Foucault dan Raymond Aron dikala mereka tengah berada di forum terbuka bersama. Bahkan, ketika presiden Perancis, Valery Giscard d’Estaing, menemuinya di istana negara, Sartre disapanya penuh hormat: “Bonjour, maitre” yang artinya “selamat pagi guru” (Wibowo, 2011).

Dunia Pendidikan yang Terbalik

Di sini, di negeri tercinta ini, dunia seakan terbalik. Interaksi sosial terasa lebih canggung. Hal ini membuat proses pendidikan di banyak tempat tampak kehilangan kelenturan, kecairan, serta suasana keakraban yang santai dan menyenangkan. Orang Indonesia sebenarnya jengah dengan formalitas. Terlihat dari gaya berpakaian ketika ke kampus.

Sejak dimulainya sejarah rezim orde baru, pakaian di lembaga pendidikan itu diseragamkan mirip dengan gaya pakaian militer. Bahkan, sandalet yang nyaman, murah, buatan dalam negeri, dan sesuai dengan iklim tropis di Indonesia juga dilarang. Karena, dianggap bagian dari pendukung dan simpatisan simbolis orde lama yang kala itu menjadi musuh politik rezim orde baru (Danandjaya, 2005).

Pada kegiatan pendidikan lainnya yang bersinggungan langsung dengan atasan, maka waktu acara terasa lebih lama, suasananya jenuh dan membosankan karena praktik formalitasnya dalam serangkaian kegiatan. Formalitas itu pula dilakukan di saat mengadakan kegiatan akademik, seperti seminar, bedah buku, kuliah umum, maupun diskusi publik.

Hal yang terkadang begitu aneh adalah banyaknya deretan nama pejabat penting yang harus disebut satu persatu. Dia harus dilayani dengan penuh hormat dan dalam suasana bernilai sakralitas yang khidmat. Ketersinggungan yang tanpa sengaja dilakukan karena tidak lengkap menyebut nama dan gelarnya akan menimbulkan kecaman dahsyat dari lingkungan sosial sekitar. Sang pejabat pun berusaha menahan geram dengan bersungut-sungut sembari wajahnya dilipat-lipat. (Raditya, 2016).

Moralitas Unit Gawat Darurat

Sejatinya, tidak ada satupun pengendali rezim pendidikan yang berniat jahat. Kita harus bisa melihatnya sisi kebaikan yang dimiliki setiap manusia, sekecil apapun. Sehingga, berbagai program yang dicanangkan untuk direalisasikan rezim pendidikan punya maksud baik. Salah satunya, program mencetak ribuan doktor baru di Indonesia yang dijanjikan oleh salah satu menteri pendidikan tinggi negeri ini. Bahkan, di sejumlah media dia pernah berseru-seru akan memberikan beasiswa kepada siapapun yang belum mendapatkan hak pendanaan pendidikan doktoral.

Tetapi, di sana-sini masih ada sejumlah orang terpaksa gigit jari. Karena, dihadapkan pada tindakan irasional birokrasi dan agenda-agenda penzaliman tersembunyi oleh kelompok kepentingan dimana mereka mengabdi.

Padahal, di lembaga pendidikan yang lain, urusan mempersulit para agen pendidikan dengan dalih aturan baku dan perintah atasan nyatanya tidak sebegitu parahnya. Dalam kultur pendidikan yang dewasa dan matang dalam mengelola sistem birokrasinya selalu ada siasat yang melegakan agen-agen pendidikannya. Baik dari segi kemudahan urusan administratifnya maupun sokongan pendanaan internal bagi mereka yang sedang melanjutkan program doktoral. Sehingga, mereka yang tengah melanjutkan studi tak perlu memikirkan tumpukan hutang yang harus dibayarkan setiap awal semesteran.

Barangkali inilah yang diamanahkan UUD Republik Indonesia akan semangat kemerdekaan kita. Suatu semangat yang membebaskan pendidikan dari sistem penindasan sesama anak bangsa. Suatu semangat kerja nyata yang berupaya mencerdaskan kehidupan bangsanya.

Wahai rezim-rezim pendidikan jangan sekali-kali bekerja dengan prinsip moralitas unit gawat darurat (UGD). Suatu moralitas yang bekerja dengan suara hati membeku menangani para korban kecelakaan yang sudah teramat gawat. Apabila, moralitas unit gawat darurat ini menjadi landasan cara kerja rezimnya, maka lembaga pendidikan tak ubahnya rumah sakit yang melayani secara prima para pasien kaya dan berkuasa, tetapi diskriminasi kepada kalangan rakyat jelata.

Sekian dan terima kasih. Salam hangat penuh cinta. Merdeka !!!

  1. Daftar Pustaka

A. Setyo Wibowo & Majalah Driyarkara, 2011. Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul SARTRE, Jogjakarta: Kanisius

Ardhie Raditya, 2016. Pendidikan Anti Pendidikan, Surabaya: Unipress

James Danandjaja, 2005. “Dari Celana Monyet ke Setelan Safari: Catatan Seorang Saksi Mata”, hal. 367-380, dalam Henk Schulte Nurdholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan, Jogjakarta: LKiS




back to top