Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Surat cinta untuk rezim pendidikan

Surat cinta untuk rezim pendidikan

Kepada yang terhormat rezim-rezim pendidikan. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, kita semua dapat menghirup udara kemerdekaan. Berkat ridhoNYA pula, penjajahan di atas bumi tercinta ini berhasil dihapuskan puluhan tahun lamanya dengan daya perjuangan yang tiada terkira.

Oleh sebab itulah, siapapun yang terpilih menjalankan suatu rezim pendidikan senantiasa meniatkan dirinya mengabdi bagi kepentingan semua orang. Plus, berbakti di atas semua golongan. Sudahkah hal ini diamalkan ?

Bukan kapasitas saya menyimpulkan jawaban kepastian. Karena, semua proses pendidikan tengah berlangsung dan tak kunjung usai. Nyatanya, setiap ganti pucuk pimpinan perubahan sistem pendidikan menjadi keniscayaan. Tetapi, tradisi feodal tidak serta-merta tumbang. Ia selalu mencari jalan keluar. Agar, warisan kolonial itu dapat bertahan dengan modifikasi tampilan-tampilan. Kondisi demikian terasa sangat menyulitkan kultur egaliterian dilakukan secara leluasa di antara agen-agen pendidikan.

Wahai rezim-rezim pendidikan, tahukah kalian dengan Sartre ? Dialah salah satu pemikir dan sosok intelektual kenamaan pada abad ke-20. Perawakannya kecil, bermata juling. Kehidupannya tak lepas dari pipa rokok di tangan. Bahkan, di saat dia mengajar.

Murid-muridnya menggambarkannya sebagai sosok guru yang unik, membebaskan, penuh kehangatan, dan egaliterian. Tatkala memulai proses pendidikan di ruang kelas, dia kerap mencurahkan semangat pencarian jati diri kepada murid-muridnya seraya berkata: “jangan pergi ke sekolah dengan buku filsafat, datanglah dengan otak terbuka”.

Kehidupan pribadinya memang dikenal kontroversial. Sering dikait-kaitkan pula dengan kisah segi tiga percintaan. Tetapi, pewarta media lebih memilih meminta komentarnya daripada Foucault dan Raymond Aron dikala mereka tengah berada di forum terbuka bersama. Bahkan, ketika presiden Perancis, Valery Giscard d’Estaing, menemuinya di istana negara, Sartre disapanya penuh hormat: “Bonjour, maitre” yang artinya “selamat pagi guru” (Wibowo, 2011).

Dunia Pendidikan yang Terbalik

Di sini, di negeri tercinta ini, dunia seakan terbalik. Interaksi sosial terasa lebih canggung. Hal ini membuat proses pendidikan di banyak tempat tampak kehilangan kelenturan, kecairan, serta suasana keakraban yang santai dan menyenangkan. Orang Indonesia sebenarnya jengah dengan formalitas. Terlihat dari gaya berpakaian ketika ke kampus.

Sejak dimulainya sejarah rezim orde baru, pakaian di lembaga pendidikan itu diseragamkan mirip dengan gaya pakaian militer. Bahkan, sandalet yang nyaman, murah, buatan dalam negeri, dan sesuai dengan iklim tropis di Indonesia juga dilarang. Karena, dianggap bagian dari pendukung dan simpatisan simbolis orde lama yang kala itu menjadi musuh politik rezim orde baru (Danandjaya, 2005).

Pada kegiatan pendidikan lainnya yang bersinggungan langsung dengan atasan, maka waktu acara terasa lebih lama, suasananya jenuh dan membosankan karena praktik formalitasnya dalam serangkaian kegiatan. Formalitas itu pula dilakukan di saat mengadakan kegiatan akademik, seperti seminar, bedah buku, kuliah umum, maupun diskusi publik.

Hal yang terkadang begitu aneh adalah banyaknya deretan nama pejabat penting yang harus disebut satu persatu. Dia harus dilayani dengan penuh hormat dan dalam suasana bernilai sakralitas yang khidmat. Ketersinggungan yang tanpa sengaja dilakukan karena tidak lengkap menyebut nama dan gelarnya akan menimbulkan kecaman dahsyat dari lingkungan sosial sekitar. Sang pejabat pun berusaha menahan geram dengan bersungut-sungut sembari wajahnya dilipat-lipat. (Raditya, 2016).

Moralitas Unit Gawat Darurat

Sejatinya, tidak ada satupun pengendali rezim pendidikan yang berniat jahat. Kita harus bisa melihatnya sisi kebaikan yang dimiliki setiap manusia, sekecil apapun. Sehingga, berbagai program yang dicanangkan untuk direalisasikan rezim pendidikan punya maksud baik. Salah satunya, program mencetak ribuan doktor baru di Indonesia yang dijanjikan oleh salah satu menteri pendidikan tinggi negeri ini. Bahkan, di sejumlah media dia pernah berseru-seru akan memberikan beasiswa kepada siapapun yang belum mendapatkan hak pendanaan pendidikan doktoral.

Tetapi, di sana-sini masih ada sejumlah orang terpaksa gigit jari. Karena, dihadapkan pada tindakan irasional birokrasi dan agenda-agenda penzaliman tersembunyi oleh kelompok kepentingan dimana mereka mengabdi.

Padahal, di lembaga pendidikan yang lain, urusan mempersulit para agen pendidikan dengan dalih aturan baku dan perintah atasan nyatanya tidak sebegitu parahnya. Dalam kultur pendidikan yang dewasa dan matang dalam mengelola sistem birokrasinya selalu ada siasat yang melegakan agen-agen pendidikannya. Baik dari segi kemudahan urusan administratifnya maupun sokongan pendanaan internal bagi mereka yang sedang melanjutkan program doktoral. Sehingga, mereka yang tengah melanjutkan studi tak perlu memikirkan tumpukan hutang yang harus dibayarkan setiap awal semesteran.

Barangkali inilah yang diamanahkan UUD Republik Indonesia akan semangat kemerdekaan kita. Suatu semangat yang membebaskan pendidikan dari sistem penindasan sesama anak bangsa. Suatu semangat kerja nyata yang berupaya mencerdaskan kehidupan bangsanya.

Wahai rezim-rezim pendidikan jangan sekali-kali bekerja dengan prinsip moralitas unit gawat darurat (UGD). Suatu moralitas yang bekerja dengan suara hati membeku menangani para korban kecelakaan yang sudah teramat gawat. Apabila, moralitas unit gawat darurat ini menjadi landasan cara kerja rezimnya, maka lembaga pendidikan tak ubahnya rumah sakit yang melayani secara prima para pasien kaya dan berkuasa, tetapi diskriminasi kepada kalangan rakyat jelata.

Sekian dan terima kasih. Salam hangat penuh cinta. Merdeka !!!

  1. Daftar Pustaka

A. Setyo Wibowo & Majalah Driyarkara, 2011. Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul SARTRE, Jogjakarta: Kanisius

Ardhie Raditya, 2016. Pendidikan Anti Pendidikan, Surabaya: Unipress

James Danandjaja, 2005. “Dari Celana Monyet ke Setelan Safari: Catatan Seorang Saksi Mata”, hal. 367-380, dalam Henk Schulte Nurdholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan, Jogjakarta: LKiS




back to top