Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya termasuk orang yang tidak berbahagia. Meskipun terdapat acara Surabaya Shopping Festival (SSF) yang diadakan pihak pemerintah setempat, saya malahan mempertanyakan moralitas kegunaannya. Karena, SSF yang bergelimang diskon 80% di setiap pusat perbelanjaan modern (mall), nyatanya di sana sedang disuguhkan situasi paradok.

Di satu sisi, SSF mendongkrak daya beli masyarakat. Tetapi, di sisi lainnya, membuat masyarakat menjadi agen-agen konsumerisme. Mereka seakan tiba-tiba bringas hanya demi berebut produk konsumerisme yang ditawarkan oleh kaum kapitalis perkotaan. Ketika harga produk didiskon hingga 80%, libido konsumsi masyarakat menjadi tak terkendali. Sehingga, mereka lupa bahwa barang yang dibelinya sejatinya kurang bernilai dalam hal kegunaannya.

Tanpa berfikir panjang apakah produk yang dibelinya akan menambah tumpukan barang di rumah mereka. Misalnya, di rumah mereka masih banyak pakaian yang layak pakai. Karena diiming-imingi pesta diskon, maka pakaian yang ada justru dianggap tak layak pakai dengan alasan keusangan alias tidak memiliki nilai kebaruan.

Kalau hendak diteliti, pelbagai produk yang didiskon pada hari itu hampir tidak jauh beda dengan program diskon pada waktu lainnya. Tetapi, pengemasan wacana diskon acara SSF tampak begitu massif dan intensif. Contohnya, di Matahari Departemen Store terdapat program belanja beli 2 gratis 1 atau beli 1 gratis 1. Itu pun ditambah potongan harga hingga 50%. Malangnya, program belanja itu hanya berlaku pada jenis merk tertentu saja. Dalam moralitas ekonomi, program belanja seperti ini sungguh tidak adil. Bagi kaum perempuan kebanyakan, membeli produk dari jenis merk yang sama sangatlah menjengkelkan. Karena, membuat mereka tidak bebas menentukan pilihan produk lainnya, apalagi, tanpa dikenakan program diskon yang sama. Kamuflase diskon tersebut teridentifikasi cara paling praktis dari korporasi untuk merusak kewarasan berfikir masyarakat.

Selain itu, terdapat juga program belanja semua produk pakaian hanya dengan Rp. 35.000 saja. Hal tersebut merupakan fenomena yang cukup menarik dimana angka 35.000 dapat terjangkau semua kelas. Bahkan, kuli bangunan saja bisa menikmati perayaan SSF ini. Fenomena baju All Item Rp. 35.000 ini tengah menyebar luas dan merambah hingga daerah-daerah kabupaten kota di sekitar Surabaya.

Padahal, cikal bakal program belanja Rp. 35.000 itu bermula dari outlet-outlet kecil yang ada di Surabaya. Tidak tanggung-tanggung, sekelas mall yang tergolong pusat belanja termegah saja turut memberlakukannya. Serangan all item Rp. 35.000 secara tidak langsung mengaburkan batas antara mall dan toko sederhana di sudut-sudut kota. Anehnya, kalangan kelas menengah begitu antusias menyambut serangan all item Rp. 35.000 ini. Maka, tidaklah heran mengapa Baudrillard (2004: 8) menyebut mall dengan istilah drugstore alias ‘gudang’ minuman beralkohol. Siapapun yang mencoba-coba terpengaruh kenikmatan berbelanja di mall pada akhirnya akan kecanduan sebagaimana layaknya penikmat minuman beralkohol di drugstore.

Media massa pun turut berperan aktif menyokong menjamurnya budaya konsumsi. Melalui gempuran iklan baik di media cetak, elektronik, maupun di media sosial, sasarannya menjangkau semua kelas sosial. Sehingga, pada saat pelaksanaan SFF berbagai pusat belanja modern di Surabaya dipadati para konsumen dari kalangan pengusaha, pejabat, intelektual, hingga penjual gorengan. Itulah sebabnya, makna konsumsi bukan lagi terkait dengan nilai tukar dan nilai guna suatu barang. Menurut Williams dalam Featherstone (2001: 48) istilah konsumsi berarti juga menggunakan barang, menyia-nyiakan waktu luang, menghaburkan uang, sekaligus merusak kondisi kemanusiaan. Rusaknya kondisi kemanusiaan ini bisa dilihat dari hubungan sosial yang ditentukan atas dasar kepemilikan produk konsumtif antara satu orang dengan orang lainnya. Kondisi ini sangat terasa dalam suasana perayaan lebaran atau hari natal tahunan. Di sana kadang saya merasa sedih.

Daftar Pustaka
M. Featherstone, 2001. Posmodernisme dan Budaya Konsumen, Yogjakarta: Pustaka Pelajar
J. Baudrillard, 2004. Masyarakat Konsumsi, Yogjakarta: Kreasi Wacana

back to top