Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Status Gunung Merapi dari "Normal ke Waspada"

Status Gunung Merapi dari "Normal ke Waspada"

Sleman – KoPi. Terkait dengan kenaikan status Gunung Merapi dari normal ke waspada yang berlaku tanggal 29 April 2014 mulai pukul 23.50 WIB, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Drs. H. Julisetiono Dwi Wasito, SH, MM, saat dijumpai di rumahnya, Kamis (1/5), menyampaikan, masyarakat untuk menyikapi status tersebut dengan bijak. “Dengan meningkatkan kewaspadaan selama beraktivitas di wilayah kawasan rawan bencana,” kata Julisetiono DW.

Perubahan status tersebut berdasarkan surat dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta nomor 326/04/BGV.K/2014 tertanggal 29 April 2014 tentang kenaikan status Gunung Merapi dari status  normal ke waspada yang berlaku tanggal  29 April 2014 pukul 23.50 WIB.

Lebih lanjut disampaikan, masyarakat juga untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan, khususnya untuk malam hari dan mempersiapkan surat-surat penting yang dimiliki untuk kemudian dimasukkan dalam tas yang sewaktu-waktu bisa dibawa.

Terkait dengan aktivitas, masyarakat umum untuk tidak melakukan pendakian. “Terkecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan upaya mitigasi bencana,” tandas Julisetiono lagi.

Dan yang lebih penting, menurut Julisetiono, masyarakat untuk tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas asal-usul dan sumbernya. Dan yang penting tetap mematuhi arahan dan aturan yang disampaikan oleh aparat pemerintah dan tim penanggulangan bencana atau Tim PRB (Pengurangan Risiko Bencana) setempat.

Sementara itu, Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo, MSi kepada wartawan usai pelantikan kepala desa di pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman mengatakan, ada 2 kades di Kecamatan Cangkringan yang dilantik, yakni Kades Wukirsari dan Kades Glagaharjo, saat bersamaan status Gunung Merapi meningkat menjadi waspada. “Hal ini tentu menjadi ujian dan tugas pertama yang harus segera dilaksanakan dalam menyiapkan masyarakat dalam menghadapi ancaman Gunung Merapi,” tandas Sri Purnomo.

Bagi aparat di lapangan, kesiapan harus lebih tinggi di atas status yang ditetapkan. Bila status Merapi waspada, maka kesiapan aparat harus dalam keadaan siap. Apabila status Merapi siaga, maka aparat harus menyiapkan seperti status awas. Dengan demikian, masyarakat dan aparat telah siap siaga dalam menghadapi ancaman Gunung Merapi yang sewaktu-waktu dating. “Karena berdasarkan pengalaman yang lalu, maka masyarakat sudah dilatih untuk siaga menghadapi bencana,” tegas Sri Purnomo.

Terkait dengan kegiatan para pemilik warung di Kinahrejo, Sri Purnomo berharap agar tidak bermalam di warungnya. Dan untuk pemilik kandang ternak agar menyiapkan pintu darurat agar memudahkan dalam evakuasi ternak.

Dalam suratnya, Kepala BPPTKG Drs. Subandriyo, MSi menyebutkan, kenaikan status Gunung Merapi dari normal ke waspada berdasarkan hasil evaluasi data pemantauan aktivitas Gunung Merapi tanggal 29 April 2014 yang meliputi kegempaan dari tanggal 20-29 April 2014 tercatat gempa guguran 37 kali, MP 13 kali, hembusan 4 kali, tektonik 24 kali dan gempa LF 29 kali. Peningkatan  signifikan terjadi  pada gempa LF sebagai indikasi meningkatnya fluida gas Vulkanik yang berpotensi menimbulkan letusan. Di samping itu tubuh gunung Merapi yang dipantau secara instrumental, baik dengan menggunakan EDM, tiltmeter maupun GPS, tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Juga visual dari pos-pos pengamatan dilaporkan terdengar suara dentuman berulangkali hingga radius 8 km.

Reporter: Affan Safani Adham

back to top