Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Stategi 90-90-90, untuk membasmi HIV AIDS

Stategi 90-90-90, untuk membasmi HIV AIDS

Jogjakarta-KoPi| Pemerintah DIY tengah merapatkan koordinasi penanggulan AIDS. Pertemuan menghadirkan Dinas Kesehatan DIY, LSM AIDS, instansi kesehatan dan Bappeda.

Ketua tim monitoring evaluasi KPA DIY, dr. Bambang Sigit adanya monev upaya untuk mencapai target internasional dan nasional, penanggulan HIV AIDS.

Pencapaian target nasional dengan metode 90-90-90. Angka 90 pertama berupa target, 90% pengidap ODHA ( pengidap dewasa) dan ADHA harus menjalani tes.

Angka 90 kedua berupa prosentase 90% pengidap harus menjalani terapi pengobatan HIV AIDS. Dan 90 terakhir berupa prosentase pengidap berhasil mensupresi virus HIV AIDS.

"Dengan uji laboratorium virusnya tersupresi, virus tertekan sampai tidak terukur, ya minimal kurang dari seribu kopi," jelas dr. Bambang.

Pencapaian surpresi dapat terwujud melalui paripurnanya tahapan 90 pertama dan kedua.

Hal senada diungkapkan oleh anggota Dinas Kesehatan DIY, dr. Daryanto menegaskan dalam waktu dekat fasilitas tes HIV AIDS tersedia puskesmas. Awalnya pelayanan tes HIV hanya tersedia di rumah sakit.

"Ada strategi puskesmas di Sleman bisa melakukan fasilitas tes, nanti bisa menyusul ke Bantul dan Gunungkidul," jelas dr. Daryanto saat seminar di Aula Dinas Pariwisata DIY pada Kamis 17 Desember 2015.

Nantinya puskesmas akan menjalin rujukan dengan rumah sakit setempat. Misalnya kabupaten Sleman merujuk ke RS PKU Muhammadiyah.

Sementara terkait sarana dan prasarana penanggulan HIV AIDS, dr. Bambang mengakui meningkat setiap tahunnya. Namun kenaikan fasilitas juga berbanding lurus dengan jumlah pengidap HIV AIDS.

"Bertambahnya, fasilitas juga sama naiknya dengan jumlah pengidap. Jumlah pengidap ini perlu diperhatikan dananya," papar dr. Bambang.

Anggaran penanggulangan HIV AIDS belum tercover sepenuhnya. Harapannya pemerintah perlu memberikan keseriusan terkait dana.

"Dana ada dari APBN, APBD, ini masih belum mencukupi," pungkas dr. Bambang. |Winda Efanur FS|

back to top