Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Stategi 90-90-90, untuk membasmi HIV AIDS

Stategi 90-90-90, untuk membasmi HIV AIDS

Jogjakarta-KoPi| Pemerintah DIY tengah merapatkan koordinasi penanggulan AIDS. Pertemuan menghadirkan Dinas Kesehatan DIY, LSM AIDS, instansi kesehatan dan Bappeda.

Ketua tim monitoring evaluasi KPA DIY, dr. Bambang Sigit adanya monev upaya untuk mencapai target internasional dan nasional, penanggulan HIV AIDS.

Pencapaian target nasional dengan metode 90-90-90. Angka 90 pertama berupa target, 90% pengidap ODHA ( pengidap dewasa) dan ADHA harus menjalani tes.

Angka 90 kedua berupa prosentase 90% pengidap harus menjalani terapi pengobatan HIV AIDS. Dan 90 terakhir berupa prosentase pengidap berhasil mensupresi virus HIV AIDS.

"Dengan uji laboratorium virusnya tersupresi, virus tertekan sampai tidak terukur, ya minimal kurang dari seribu kopi," jelas dr. Bambang.

Pencapaian surpresi dapat terwujud melalui paripurnanya tahapan 90 pertama dan kedua.

Hal senada diungkapkan oleh anggota Dinas Kesehatan DIY, dr. Daryanto menegaskan dalam waktu dekat fasilitas tes HIV AIDS tersedia puskesmas. Awalnya pelayanan tes HIV hanya tersedia di rumah sakit.

"Ada strategi puskesmas di Sleman bisa melakukan fasilitas tes, nanti bisa menyusul ke Bantul dan Gunungkidul," jelas dr. Daryanto saat seminar di Aula Dinas Pariwisata DIY pada Kamis 17 Desember 2015.

Nantinya puskesmas akan menjalin rujukan dengan rumah sakit setempat. Misalnya kabupaten Sleman merujuk ke RS PKU Muhammadiyah.

Sementara terkait sarana dan prasarana penanggulan HIV AIDS, dr. Bambang mengakui meningkat setiap tahunnya. Namun kenaikan fasilitas juga berbanding lurus dengan jumlah pengidap HIV AIDS.

"Bertambahnya, fasilitas juga sama naiknya dengan jumlah pengidap. Jumlah pengidap ini perlu diperhatikan dananya," papar dr. Bambang.

Anggaran penanggulangan HIV AIDS belum tercover sepenuhnya. Harapannya pemerintah perlu memberikan keseriusan terkait dana.

"Dana ada dari APBN, APBD, ini masih belum mencukupi," pungkas dr. Bambang. |Winda Efanur FS|

back to top