Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Stategi 90-90-90, untuk membasmi HIV AIDS

Stategi 90-90-90, untuk membasmi HIV AIDS

Jogjakarta-KoPi| Pemerintah DIY tengah merapatkan koordinasi penanggulan AIDS. Pertemuan menghadirkan Dinas Kesehatan DIY, LSM AIDS, instansi kesehatan dan Bappeda.

Ketua tim monitoring evaluasi KPA DIY, dr. Bambang Sigit adanya monev upaya untuk mencapai target internasional dan nasional, penanggulan HIV AIDS.

Pencapaian target nasional dengan metode 90-90-90. Angka 90 pertama berupa target, 90% pengidap ODHA ( pengidap dewasa) dan ADHA harus menjalani tes.

Angka 90 kedua berupa prosentase 90% pengidap harus menjalani terapi pengobatan HIV AIDS. Dan 90 terakhir berupa prosentase pengidap berhasil mensupresi virus HIV AIDS.

"Dengan uji laboratorium virusnya tersupresi, virus tertekan sampai tidak terukur, ya minimal kurang dari seribu kopi," jelas dr. Bambang.

Pencapaian surpresi dapat terwujud melalui paripurnanya tahapan 90 pertama dan kedua.

Hal senada diungkapkan oleh anggota Dinas Kesehatan DIY, dr. Daryanto menegaskan dalam waktu dekat fasilitas tes HIV AIDS tersedia puskesmas. Awalnya pelayanan tes HIV hanya tersedia di rumah sakit.

"Ada strategi puskesmas di Sleman bisa melakukan fasilitas tes, nanti bisa menyusul ke Bantul dan Gunungkidul," jelas dr. Daryanto saat seminar di Aula Dinas Pariwisata DIY pada Kamis 17 Desember 2015.

Nantinya puskesmas akan menjalin rujukan dengan rumah sakit setempat. Misalnya kabupaten Sleman merujuk ke RS PKU Muhammadiyah.

Sementara terkait sarana dan prasarana penanggulan HIV AIDS, dr. Bambang mengakui meningkat setiap tahunnya. Namun kenaikan fasilitas juga berbanding lurus dengan jumlah pengidap HIV AIDS.

"Bertambahnya, fasilitas juga sama naiknya dengan jumlah pengidap. Jumlah pengidap ini perlu diperhatikan dananya," papar dr. Bambang.

Anggaran penanggulangan HIV AIDS belum tercover sepenuhnya. Harapannya pemerintah perlu memberikan keseriusan terkait dana.

"Dana ada dari APBN, APBD, ini masih belum mencukupi," pungkas dr. Bambang. |Winda Efanur FS|

back to top