Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Sosiolog UNAIR serukan perusahaan pembunuh Salim untuk hengkang

Sosiolog UNAIR serukan perusahaan pembunuh Salim untuk hengkang
Surabaya-KoPi| Kematian Salim Kancil pada Sabtu (26/9) menuai kecaman dari masyarakat. Petani yang merupakan aktivis penolakan penambangan pasir ilegal di Lumajang Jawa Timur ini tewas setelah sekumpulan orang memukulinya dengan kayu dan batu.

Diduga, pihak yang melatarbelakangi pembunuhan Salim adalah PT Indo Modern Mining Sejahtera. Perusahaan tersebut melakukan banyak pertambangan ilegal di wilayah galian C.

Sosiolog Universitas Airlangga, Novri Susan menyebutkan bahwa kasus yang terjadi pada Salim merupakan bentuk kekacauan konflik agraria di Indonesia. Novri menuturkan bahwa konflik agraria melibatkan beberapa aktor di dalamnya.

“Aktor pertama adalah masyarakat yang telah bermukim lama di daerah tersebut, kedua, adalah pihak mining, perusahaannya. Tentunya ada keterlibatan pemerintah dalam memberikan kebijakan kepada perusahaan, sehingga pemerintah menjadi aktor ketiga” ujar dosen sosiologi konflik kepada KoPi Senin (29/9).

Novri menyayangkan pemerintah dalam kegagalan mengelola konflik yang terjadi di Indonesia. Melihat bagaimana Indonesia menjunjung tinggi nilai demokrasi, peran masyarakat dalam penentu kebijakan merupakan salah satu elemen yang kesetaraannya sama dengan pemerintah itu sendiri.

“Di tingkat lokal kabupaten, pemerintah tidak menyediakan ruang dialog untuk menegosiasikan keputusan atas kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan umum. Sehingga kebijakan dan regulasi yang tercipta akan mendapatkan perlawanan dari masyarakat. Sedangkan bagi pemerintah perlawanan tersebut dianggap kriminal karena melawan legalitas kebijakan,” ujar penulis buku Negara Gagal Mengelola Konflik tersebut.

Kematian Salim merupakan korban atas kegagalan pemerintah dalam mengelola konflik agraria. Mafia-mafia yang terlibat di dalamnya harus segera diberi sanksi tegas agar tidak memunculkan konflik lainnya.

“Ini sudah sangat keterlaluan, sanksinya pemerintah harus cabut surat ijin perusahaan tersebut. Artinya Perusahaan tersebut harus hengkang dari sana!,” tuturnya.

Novri juga mendesak pemerintah untuk segera membentuk kelembagaan yang bisa mengatur mekanisme pengelolaan konflik dan penyelesaian konflik berbasis kesetaraan. Mengingat, masih ada 15 konflik sumber daya alam di Jawa Timur. |Labibah

back to top