Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Sosiolog: Paska pilpres, waktunya bekerjasama

foto: peacesymbol.org foto: peacesymbol.org
Paska pilpres 2014 masyarakat perlu beranjak dari dimensi persaingan politik menuju kerjasama kolektif antar elemen-elemen kebangsaan. Demikian sosiolog Universitas Airlangga menyatakan kepada KoPi.

 

Yogya-KoPi- Pada sela kesibukannya menyambut lebaran di Yogyakarta, Novri Susan menyempatkan waktu berdiskusi  beberapa saat tentang paska pilpres 2014 dengan KoPi. Ayah dari Aisya Sabili tersebut menyatakan bahwa hajat demokrasi pilpres 2014 telah usai.

"Proses persaingan dan konflik politik pada medan pemilu serta pilpres 2014 telah usai. Terutama bagi masyarakat Indonesia. Usai dalam pengertian tidak ada lagi periode waktu yang secara khusus menjadi arena pilpres"

Masyarakat Indonesia perlu membuka hati seluasnya pada hasil pilpres yang diumumkan KPU pada 22 Juli lalu. Kini adalah waktu bekerjasama secara produktif diantara masyarakat baik secara sosial, ekonomi dan kebudayaan.

"Jangan mogok pada kondisi siapa pemimpin terbaik atau terburuk. Namun waktunya kembali ke dunia nyata dimana bangsa ini sangat butuh kepedulian. Ada masyarakat yang perlu pemberdayaan, perlindungan dan dorongan semangat".

Menurut sosiolog yang juga kepala sociology center Universitas Airlangga tersebut, kerjasama hanya bisa dilaksanakan jika masyarakat mampu keluar dari kotak egoisme, prasangka, dan kebencian akibat periode pilpres 2014.

Masalah protes terhadap hasil pilpres, masyarakat perlu menyerahkan itu kepada mekanisme demokrasi, hukum dan konstitusi.

"Protes pada hasil pilpres serahkan pada mekanisme demokrasi dan konstitusi. Kritis sangat dianjurkan dengan syarat rasional dan nirkekerasan. Kritis itu berbeda dengan mobilisasi kebencian, prasangka, dan saling bully. Masyarakat Indonesia itu indah".*

 

*reporter: Irfan

back to top