Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Soal disabilitas, tidak sinkron antara pusat dengan daerah

Audiensi Komite Disabilitas Kota Jogja ke Dinas Pendidikan Kota Jogja Audiensi Komite Disabilitas Kota Jogja ke Dinas Pendidikan Kota Jogja

Jogjakarta-KoPi| Koordinator Forum Penguatan Disabilitas kota, Arni Surwanti menilai ada ketidaksinkronan antara pemerintah pusat dengan daerah terkait pendidikan inklusi.

Program sekolah inklusi di tingkat daerah belum optimal. Beberapa sekolah inklusi di kota Jogja belum sepenuhnya memiliki sarana dan prasarana yang mendukung penyandang disabilitas.

"Tanggung jawab menerima disabilitas pada semua sekolah dengan sistem integrasi sesuai kondisi sekolah yang ada," kata Arni saat penyampaian audiensi di Kantor Dinas Pendidikan Kota pada 15 Februari 2016.

Seperti yang diungkapkan Anggota Komite Disabilitas Kota, Nuning menambahkan sarana dan prasarana belum mendukung tuna rungu.
Penerapan metode belajar di sekolah informal memiliki keterbatasan guru pendamping atau interpreter.

Anggota Komite Disabilitas, Andi menambahkan siswa tuna rungu kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah formal maupun. Pasalnya metode belajar normal. Mereka hanya memahami dari tulisan di papan tulis.

Andi mengharapkan sekolah memfasilitasi interpreter yang kompeten. Guru pendamping atau interpreter menjelaskan materi dengan bahasa isyarat.
"Dengan motode pembelajaran yang biasa mereka tertinggal, materi untuk tuna rungu itu berbeda," papar Andi.

Penyandang tuna rungu memiliki identitas dan budaya yang berbeda.
"Penjelasan materi pelajaran dengan bahasa isyarat meningkatkan kemampuan tuna rungu memahami materi pelajaran," pungkas Andi. |Winda Efanur FS|

back to top