Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Siapa curang dalam quick count?

foto: politik.kompasiana.com foto: politik.kompasiana.com

Jakarta-KoPi. Masyarakat Indonesia berada dalam ketidakpastian paska lembaga-lembaga survey menayangkan hasil quick count yang bertentangan. Melalui TV One, televisi yang menjadi corong Prabowo-Hatta, menampilkan lembaga-lembaga survey yang menempatkan pasangan tersebut sebagai pemenang. Sebaliknya Metro TV menampilkan lembaga-lembaga survey yang memenangkan pasangan capres Jokowi dan Jusuf Kalla.

Mengapa bisa berbeda? Menurut Novri Susan, dosen sosiologi Universitas Airlangga perbedaan dalam hasil survey, jajak pendapat (polling, red.) dan quick count sangat dipengaruhi oleh kedalaman metode penelitian. Kedalaman tersebut adalah jumlah sample, representasi wilayah, dan akurasi tabulasi data.

"Survey dan jajak pendapat itu merupakan metode kuantitatif yang mencari kecenderungan persepsi. Tidak tepat seratus persen, yang digambarkan oleh margin error antara 1-2.5 persen. Makin kecil margin error berarti jumlah sample makin besar".

Menyikapi kasus perang quick count, menurut sosiolog yang juga menjadi kepala sociology center Unair ini, perlu uji kedalaman metode dari masing-masing lembaga survey. Selain itu menurutnya rekam jejak lembaga survey bisa juga digunakan untuk menilai kredibilitas. Apakah lembaga survey abal-abal atau profesional.

"Rekam jejak yang jelas dan terbukti akurat merupakan cara sederhana untuk melihat kredibilitas lembaga survey. Jika kantor saja tidak jelas, bagaimana bisa disebut kredibel?"*

 

*E. Hermawan

back to top