Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Seram-seram asyik naik kereta kelinci

Seram-seram asyik naik kereta kelinci
Surabaya – KoPi | Keberadaan kereta kelinci memang selalu penuh dilema. Di satu sisi kereta kelinci adalah hiburan murah meriah bagi anak-anak serta menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat kecil. Namun di sisi lain kereta kelinci selalu identik dengan pelanggaran aturan berlalu lintas.
 

Sore hari selalu menjadi waktu penuh penantian bagi Haydar, bocah usia 4 tahun. Setiap sore kereta kelinci selalu lewat di depan rumah bocah tersebut. Begitu musik khas kereta kelinci terdengar, ia selalu merengek kepada ibunya untuk ikut naik.

Begitulah daya tarik kemeriahan yang ditawarkan kereta kelinci. Hanya dengan biaya yang terjangkau, antara Rp 2.000-3.000, bisa membuat anak-anak bergembira. Sore hari berkeliling kompleks perumahan atau jalanan kampung dengan diiringi musik yang ceria menjadi kesenangan tersendiri bagi anak-anak.

Namun bagi para penegak hukum, kereta kelinci membuat mereka uring-uringan. Bagi pihak kepolisian, kereta kelinci merupakan kumpulan pelanggaran aturan lalu lintas. Dalam satu unit kereta kelinci saja ada beberapa deret pelanggaran yang bisa disebutkan. Misalnya, modifikasi yang tidak sesuai fungsi kendaraan, kelayakan kendaraan yang belum teruji, hingga kelengkapan surat-suratnya.

Polisi berpendapat kereta kelinci sering kali dibuat dan dimodifikasi secara asal-asalan, sehingga rawan menimbulkan kecelakan lalu lintas. Selain itu, kebanyakan kereta kelinci dibuat dari kendaraan tua yang belum teruji kelayakannya.

“Bahkan kebanyakan hanya menggunakan mesin motor usang dan kompresor,” ungkap Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Made Agus Prasatya.

Karena spesifikasi macam itu, kereta kelinci tidak layak jika dioperasikan di jalan raya. Apalagi kereta kelinci selalu mengangkut banyak penumpang, yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak. Jika terjadi kecelakaan, merekalah yang paling rentan menjadi korban.

Itu sebabnya Polrestabes Surabaya giat merazia kereta kelinci yang beroperasi di jalan raya. Pada bulan April 2015 saja, ada 25 kereta kelinci yang terjaring razia di Surabaya. Kebanyakan dari mereka ditilang karena melanggar kelayakan.

Sejatinya sudah ada peraturan yang menyatakan bahwa kereta kelinci dan becak motor (betor) dilarang beroperasi di jalan raya. Pihak Polrestabes Surabaya mengatakan larangan itu muncul dari keluhan masyarakat yang sering disampaikan lewat media massa. Di beberapa gang dan kampung di Surabaya sendiri sudah ada peringatan yang melarang kereta kelinci melintas di gang atau kampung tersebut.

Pihak Polrestabes Surabaya mengatakan sebenarnya kendaraan seperti kereta kelinci bsia beroperasi, namun harus ada payung hukumnya. Di beberapa daerah sudah ada aturan hukum yang menaungi keberadaan betor. Bahkan kendaraan modifikasi untuk penyandang disabilitas juga sudah memiliki payung hukum berupa Peraturan Daerah, sehingga bisa beroperasi di jalan raya. Hanya saja, hingga saat ini di Surabaya masih belum ada upaya untuk membuat payung hukum itu. Pihak kepolisian mempersilakan jika masyarakat ingin mengajukan payung hukum untuk menaungi keberadaan kereta kelinci.

 

back to top