Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Seminar COMICOS 2017 Universitas Atmajaya Yogyakarta

Seminar COMICOS 2017 Universitas Atmajaya Yogyakarta

SLEMAN-Memasuki usianya yang ke-52 di tahun 2017 ini, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berkomitment untuk terus melakukan inovasi. Dengan mengusung tema ‘journey to invention’, UAJY berupaya untuk terus mengembangkan istitusinya menuju masyarakat berpengetahuan (knowledge community) melalui berbagai penelitian. Tentunya penelitian ini tidak hanya sekedar menciptakan hasil, namun juga berupaya mensinergikan peran antara pemerintah, industri, universitas dengan mengajak peran serta masyarakat sipil demi mencapai inovasi yang berkelanjutan.

Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Dr. Muhammad Dimyati, dalam pidato Dies Natalis ke-51 UAJY tahun 2016 mengatakan penelitian menjadi sebuah bidang yang mampu digunakan oleh bangsa dalam meningkatkan daya saing global. Melalui penelitian, potensi lokal mampu dikembangkan yang akan menunjukkan daya saing suatu bangsa.

Dari aspek ekonomi, Indonesia bisa dibilang maju. Sebagai gambaran, ketika Presiden Joko Widodo (26/2/2017) membanggakan pertumbuhan ekonomi RI pada 2016 yang secara global berada di peringkat ketiga. Nielsen Global Survey (2016) bahkan menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga paling meyakinkan di Asia. Namun dari aspek inovasi, peringkat Indonesia justru kebalikannya. Kondisi penelitian di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. Global Innovation Index (2016) menempatkan Indonesia pada urutan 88 dari total 128 negara di dunia.

Catatan merah bagi Indonesia adalah rendahnya penilaian pada bidang politik dan pemerintahan, pendidikan dan penelitian serta inovasi industri. Padahal bidang tersebut merupakan pilar negara yang bisa mendorong kemajuan bangsa. Tanpa sinergi antara insitusi pemerintah, pendidikan dan industri tidak akan mungkin bisa tercapai masyarakat yang maju dan sejahtera.

Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan negara ini memiliki visi berdagang yang membuat kita terus-terusan jadi bangsa konsumen, bukan produsen (IndoPos, 11/03/2017). Dalam hal pengembangan inovasi, pemerintah memang memiliki peran strategis dalam sinergi dengan universitas dan industri yang tidak bisa terlepas dari isu global warming. Presiden Joko Widodo ketika menghadiri Conference of Parties (COP) 21 di Paris telah menyampaikan komitmen pada inovasi dan produksi yang peduli pada lingkungan (DetikNews, 01/12/ 2015).

Berbagai persoalan ekonomi, keterbelakangan teknologi, serta kondisi lingkungan alam yang kian terancam menantang dan mengundang berbagai pihak dan aktor-aktor kunci—khususnya perguruan tinggi—untuk ambil peran dan turun tangan. Setidaknya, ada tiga model untuk memahami interaksi aktor-aktor kunci dalam sistem inovasi: (1) Triple Helix, (2) Quadruple Helix, dan (3) Quintuple Helix.

Model inovasi Triple Helix (Leydesdorff, 2012) yang muncul pada pertengahan 1990-an memfokuskan pada relasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Model ini meletakkan pentingnya keberadaan perguruan tinggi dalam produksi pengetahuan dan inovasi di bidang ekonomi atau sering disebut dengan istilah knowledge economy.

Model Quadruple Helix menambahkan konsep Triple Helix dengan helix keempat yakni ‘public yang berbasis pada media dan budaya’ serta masyarakat sipil. Pendekatan Quadruple Helix mengupayakan sinergi antara universitas, industri, pemerintah, dan masyarakat sipil (civil society) dalam kehidupan sebuah negara (Carayannis et al., 2012). Quadruple Helix lebih mendorong perspektif knowledge society, dan knowledge democracy untuk produksi pengetahuan dan inovasi.

Dinamika pembangunan masyarakat membutuhkan inovasi baru yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Model Quintuple Helix menjadi relevan untuk melihat realitas kondisi saat ini dengan mengkontekstualisasikan model Quadruple Helix dan menambahkan helix (dan perspektif) ‘lingkungan alam’. Quintuple Helix lebih menekankan pada pentingnya socioecological transition dari masyarakat dan ekonomi; sehingga Quintuple Helix lebih ‘ecologically sensitive’.

Dalam kerangka model inovasi Quintuple Helix, lingkungan alam dari masyarakat dan ekonomi harus dilihat sebagai driver bagi produksi pengetahuan dan inovasi yang kemudian membuka peluang bagi knowledge economy. Dengan demikian Quintuple Helix mendukung situasi win-win antara ekologi, pengetahuan dan inovasi, serta menciptakan sinergi antara ekonomi, masyarakat, dan demokrasi (Carayannis, Barth & Campbell, 2012).

Keberadaan Model Quintuple Helix menjembatani isu pengetahuan dengan isu sosial sebagai sebuah bentuk transfer interdispliner yang saling menguntungkan bagi masa depan. Carayannis dan Kaloudis (2010) menekankan bagaimana agar inovasi bisa mendayagunakan konsep leadership, empowerment serta intelligent use of technology sebagai pilar inovasi.

Faktanya, socioecological transition merupakan pendorong utama inovasi untuk kemudian bisa menciptakan inovasi dan pengetahuan yang lebih baik. Dalam hal inilah universitas akan berperan sebagai sub-sistem yang akan menjadi wadah potensi manusia (human capital) yang luar biasa.

Di masa mendatang, universitas diharapkan bisa berperan dalam transfer informasi teknologi dan kewirausahaan di luar pengajaran dan penelitian. Dengan demikian, posisi universitas kini pun bertransformasi menjadi socio-economic agent setelah misi akademik untuk mengajar dan melakukan penelitian (Ranga & Etzkowitz, 2011).

Hal ini merupakan salah satu bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperkuat hubungan antara universitas dan msyarakat. Kolaborasi yang terjadi akan meningkatkan keberadaan universitas dalam menghasilkan penelitian. Pada akhirnya, universitas bisa memenuhi kekosongan yang ada dan menjadi ‘innovation organizer’ (Rubin, 2009) untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan kaya akan pengetahuan dengan tetap menjaga sensitivitas terhadap isu lingkungan.

Hal inilah yang mendasari terselenggaranya Conference on Media, Communication and Sociology (COMICOS) pada tahun 2017 ini dengan tema ‘Developing Knowledge Community: Quintuple Helix and Beyond’. Dengan pendekatan Quintuple Helix, diharapkan konferensi ini mampu menarik minat dan keinginan saling berbagi di antara para mahasiswa, dosen, akademisi dan praktisi dari semua bidang ilmu untuk berinteraksi, berdiskusi, berinteraksi, dan kemudian bersinergi untuk memecahkan berbagai persoalan yang kita hadapi bersama.

Konferensi nasional ini akan diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 7 dan 8 September 2017 bertempat di Kampus 4 Gd. Teresa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, jl. Babarsari No. 6 Yogyakarta. Target peserta mahasiswa, dosen dan akademisi, praktisi industri, dan umum.

back to top