Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Seleksi alam jadikan orang Eropa semakin putih

Seleksi alam jadikan orang Eropa semakin putih

KoPiPara ilmuwan menyatakan bahwa orang Eropa semakin bertambah putih karena adanya perubahan yang nyata pada DNA yang disebabkan oleh proses seleksi alam 5000 tahun yang lalu.

Sebuah tim peneliti yang beranggotakan beberapa orang ilmuwan meneliti DNA yang diambil dari kerangka kuno dan membandingkannya dengan genome orang Eropa masa kini.

Tim dari University College London dan Mainz ini menemukan perbedaan yang sangat jelas dalam gen yang dihubungkan dengan pigmentasi rambut, kulit dan mata.

Sandra Wilde, dari Mainz’s Johannes Gutenberg University menyatakan, "Manusia prasejarah Eropa di wilayah yang kami teliti ternyata lebih hitam dari keturunan mereka yang hidup di masa kini."

Bekerjasama dengan arkeolog asal Berlin dan Kiev, para ilmuwan menggunakan simulasi komputer untuk menggabungkan titik-titik antara satu data dengan data yang lain. Saat perubahan genetik tak dapat dijelaskan melalui keacakan peninggalan, para peneliti mampu mengambil kesimpulan bahwa seleksi positif tersebut memainkan peran penting.

Para peneliti melaporkan bahwa ada banyak penjelasan yang mungkin tentang penyebab perubahan ini. Profesor UCL, Mark Thomas mengatakan, "Kemungkinan yang paling jelas adalah perubahan ini merupakan hasil dari proses adaptasi pada kurangnya tingkat sinar matahari di garis lintang utara."

Profesor Thomas juga menjelaskan bahwa jumlah vitamin D yang didapat oleh kulit yang lebih terang melalui pencahayaan sinar UV dibandingkan dengan kulit yang lebih gelap adalah kemungkinan yang paling tepat.

Akan tetapi, Wilde mengatakan, "Penjelasan mengenai vitamin D rasanya kurang meyakinkan jika hal tersebut dihubungkan dengan warna rambut dan mata. Malahan, bisa jadi warna kulit dan mata yang lebih terang berfungsi sebagai tanda yang menunjukkan hubungan kelompok, yang berperan dalam seleksi rekan."

Tim penelitian ini menyatakan bahwa penemuan mereka memperkuat teori yang menyatakan bahwa kebiasaan pilihan kelompok sering memiliki pengaruh yang lebih kuat pada seleksi seksual daripada lingkungan alami. |The Independent|AP Sari| Ed.URS

back to top