Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Seleksi alam jadikan orang Eropa semakin putih

Seleksi alam jadikan orang Eropa semakin putih

KoPiPara ilmuwan menyatakan bahwa orang Eropa semakin bertambah putih karena adanya perubahan yang nyata pada DNA yang disebabkan oleh proses seleksi alam 5000 tahun yang lalu.

Sebuah tim peneliti yang beranggotakan beberapa orang ilmuwan meneliti DNA yang diambil dari kerangka kuno dan membandingkannya dengan genome orang Eropa masa kini.

Tim dari University College London dan Mainz ini menemukan perbedaan yang sangat jelas dalam gen yang dihubungkan dengan pigmentasi rambut, kulit dan mata.

Sandra Wilde, dari Mainz’s Johannes Gutenberg University menyatakan, "Manusia prasejarah Eropa di wilayah yang kami teliti ternyata lebih hitam dari keturunan mereka yang hidup di masa kini."

Bekerjasama dengan arkeolog asal Berlin dan Kiev, para ilmuwan menggunakan simulasi komputer untuk menggabungkan titik-titik antara satu data dengan data yang lain. Saat perubahan genetik tak dapat dijelaskan melalui keacakan peninggalan, para peneliti mampu mengambil kesimpulan bahwa seleksi positif tersebut memainkan peran penting.

Para peneliti melaporkan bahwa ada banyak penjelasan yang mungkin tentang penyebab perubahan ini. Profesor UCL, Mark Thomas mengatakan, "Kemungkinan yang paling jelas adalah perubahan ini merupakan hasil dari proses adaptasi pada kurangnya tingkat sinar matahari di garis lintang utara."

Profesor Thomas juga menjelaskan bahwa jumlah vitamin D yang didapat oleh kulit yang lebih terang melalui pencahayaan sinar UV dibandingkan dengan kulit yang lebih gelap adalah kemungkinan yang paling tepat.

Akan tetapi, Wilde mengatakan, "Penjelasan mengenai vitamin D rasanya kurang meyakinkan jika hal tersebut dihubungkan dengan warna rambut dan mata. Malahan, bisa jadi warna kulit dan mata yang lebih terang berfungsi sebagai tanda yang menunjukkan hubungan kelompok, yang berperan dalam seleksi rekan."

Tim penelitian ini menyatakan bahwa penemuan mereka memperkuat teori yang menyatakan bahwa kebiasaan pilihan kelompok sering memiliki pengaruh yang lebih kuat pada seleksi seksual daripada lingkungan alami. |The Independent|AP Sari| Ed.URS

back to top