Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Sedapnya aroma asap di desa ikan panggangan

Sedapnya aroma asap di desa ikan panggangan
Surabaya – KoPi | Di timur kota Surabaya sebuah kampung nelayan menjadi desa penghasil keragaman unik jenis ikan hasil tangkapan. Pasalnya, ikan hasil tangkapan nelayan sejak malam hingga fajar ini tidak sekedar dijual segar begitu saja. Warga Desa Kejawan Lor selalu mengolah ikan tersebut melalui proses pengasapan sehingga membuat ikan memiliki aroma khusus.

Ikan asap lebih dikenal masyarakat Surabaya sebagai ikan panggangan. Masyarakat desa Kejawan Lor mengklaim bahwa ikan panggangan merupakan jerih payah warga Kejawan Lor yang harus dilestarikan. Namun sayangnya, para penggemar ikan panggangan hanya mengetahui ikan ini sebatas milik Surabaya.

“Saya ingin terus melestarikan ikan panganggan ini, dan saya ingin ikan panggangan dikenal sebagai ciri khas dari Desa Kejawan Lor, tidak sebatas Surabaya saja,” ujar Muroha, salah seorang pedagang ikan di Kejawan Lor.

Muroha bercerita bahwa teknik pengasapan ikan ini merupakan turun temurun para leluhur. Pengasapan dilakukan secara tradisional, tanpa menggunakan alat atau fasilitas modern. Bahkan beberapa warga desa mengasap sendiri ikan dengan tungku buatan sendiri.

Muroha mengatakan, ikan asap telah lama menjadi produk khas desanya. Yang menarik, teknik pengasapan ini sangat cocok untuk ikan jenis apapun, baik gurame, kakap merah, tengiri, ikan pe (pari), keting (patin laut), atau kerapu.

Aktivitas pengasapan ikan warga ini berlangsung sejak pagi. Para pedagang ikan asap biasanya mendapat pasokan ikan segar dari nelayan Kenjeran setiap pukul 9 pagi. Ikan-ikan tersebut dibersihkan lalu dimasukan dalam tungku asap. Ikan tersebut lalu diasap dengan asap yang berasal dari pembakaran tempurung kelapa.

Salah satu jenis ikan panggangan yang populer di kalangan masyarakat Surabaya adalah ikan pe. Ikan jenis ini menjadi lauk populer di berbagai warung penyetan. Ibu Muroha mengaku setiap hari bisa menjual 20 kg ikan pe asap. Pembeli yang datang kebanyakan adalah para tengkulak di pasar atau para pemilik warung penyetan.

Pasar kecil yang dibangun atas inisiatif warga desa Kejawan Lor ini memang tidak terlalu banyak pengunjung. Walaupun dekat dengan tempat wisata Pantai Ria Kenjeran, pasar Desa Kejawan Lor masih jarang dikunjungi pengunjung dari luar.

Menurut Nia, salah seorang pedagang ikan asap, penghasilan bersih yang ia dapat setiap hari bisa mencapai Rp 80-100 ribu. Pada hari libur omsetnya bisa mencapai dua kali lipat. Ramainya para wisatawan Pantai Kenjeran pada akhir pekan dan hari libur membantu penjualan ikan tersebut. Selain itu, Nia juga biasa menjajakan dagangannya dengan berkeliling di tempat wisata. | Labibah

back to top