Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Secinta (Di)

foto: framingpainting.com foto: framingpainting.com
Secinta, dunia kini mengecil dan sempit. Kurasa demikian. Sejak ruhmu meninggalkan ruhku beberapa waktu lalu. Seperti kilat yang melesat dari ufuk timur membelah cakrawala barat dalam sekejap mata. Sekejap itu juga, hati ini tidak lagi mempunyai nyala yang cukup. Setiap butir darah dalam tubuh menyebutmu dengan gelisah. Sehingga gemetar, dan goyah saat melangkah walaupun selangkah. Namamu menjadi detak nadi. Berdenyut halus dan kuasa.

Oleh: Ay


"Kamulah yang memiliki...kamulah yang dimiliki"

Aku tergopoh diantara kata-katamu. Tercabik oleh ketidakberdayaan yang fakir. Perjalanan kita, indah dan polos. Bermula dari mimpi yang sama. Semangat dengan balutan senyum riang. Seolah hanya aku dan kamu manusia merdeka. Tanpa tertindas oleh apapun, bahkan oleh takdir.

Puisi membait setiap hari. Pagi adalah awal dari segala masa depan. Lalu malam, menjadi peraduan bagi sedu sedan keinginan pada perjumpaan. Waktu tidak mampu menggeser apapun tentang kisah yang merdu ini. Aku dan kamu berkelindan, berpagut sedalam-dalamnya.

Suatu ketika, kuhampiri. Kamu sedang melukis bunga-bunga, dan cahaya pagi menjadi mahkota. Jelita, lembut dan bibirmu merah kesumba. Aku menghamba pada suka cita yang menetes darimu. Lantas kita bercengkrama. Segelas teh hangat terseduh, wangi dan manis. Untuk berdua. Sampai senja datang, betapa perasaanku adalah perasaanmu.

"Mimpi ini...bertahankah?"

Jadilah kabut, aku kehilangan daya melayang perlahan hilang. Pertanyaan itu sangat purba, bergelombang kuat menghempas. Pada malam-malam yang larut oleh kerinduan, aku ingin menjawabnya seketika. Keajaiban. Sungguh jantung yang memujimu mengharap keajaiban. Maka, kamu menangis di kejauhan.

Aku mengajakmu ke pantai, ketika matahari masih sangat muda. Berdua di bawah pohonan kelapa yang menaung. Ombak menggemuruh cemburu, mungkin betapa kecupku ada di pipimu. Jemariku memanja pinggangmu. Angin, pasir, dan awan seperti para kurcaci yang menari, sambutan kepadamu.

"Datanglah...aku di sini sebagai persembahan untukmu"

Suaramu gemetar, mengaliri alam pikiran. Rasanya, jika saja membuka jendela kamar bisa langsung menemukanmu. Namun ini bukan soal jarak, timur dan barat. Ini tentang aku yang menimbang keraguan. Padahal setiap hari rindu mengakar kuat dan menjulang.

Aku mengeluh tentang aku yang tidak memahami aku. Atau, inikah cara alam memasukkan setiap kejadian kedalam tungku sejarahnya. Aku tergenggam, terkungkung di dalamnya. Keberanian hanya ada dalam batin saja. Melukai atau dilukai, tidak mungkin menjadi pilihan. Aku seperti pengecut yang terbuai cita-cita gemerlap. Lalu kamu, berhenti menangis. Berhenti bersuara. Berhenti memanggilku.

"Lihatlah...hanya kamu yang kuijinkan tiggal di istanaku."

Istanamu sangat elok. Taman yang teduh, ribuan bunga mengharum, dan danau yang memantul cahaya-cahaya mungil. Kubah istana, keemasan menyentuh puncak langit. Tidak ada kelam. Tidak ada remang. Aku mengenakan pakaian darimu. Kemanapun.

Aku memujimu dalam pelukan. Bibirku menguas bibir dan tubuhmu. Nafas yang resah, berkelindan tak ingin lepas. Jemari dan jemari menggenggam. Terpekik lirih. Aku menetes dan kamu mengait kehidupanku. Pandanganku ada di kedua matamu yang berbinar. Aku menyerah. Kamu menyerah.

"Jadikanlah aku sebagaimana yang ada dalam hatimu."

Kamulah hatiku. Tidak mengertikah, kupanggil namamu bahkan ketika tidur. Kemarahan yang menderaku tak kuhirau. Sebab aku telah menjadi milikmu. Semua akan kulepas untuk menyerah dalam ikatanmu.

Aku perlu menundukkan waktu, yang ada dalam kekuasaan masa silam. Itulah kuasa yang memisahkanku denganmu. Kesabaran semestinya kita percayai. Seperti halnya Harjuna mempercayai Kresna di medan perang barantayuda. Aku memohon, seperti rembulan pada bumi yang dicintanya.

"Aku juga mencintaimu...aku pergi."

Aku berteriak memanggilmu kembali. Kusangka inilah ilusi yang keji. Tidak mungkin kamu pergi. Ruhku adalah ruhmu. Dan, ketika pagi tak lagi kujumpai. Kamu sungguh pergi. Serasa daun kering terhembus badai musim ini.

Dunia ini tak kuingini, hanya kujalani. Sebab duniaku yang sesungguhnya adalah senyummu, jemarimu, parasmu, dan masa depan yang semestinya aku kamu bersatu. Aku kini membayang musim demi musim yang membawamu kembali.

Secinta, aku menyerah apa adanya. Menjadi persembahan sebagai bunga. Yang tumbuh di jiwamu selama musim selama ada.

 

 

back to top