Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Sebuah catatan…lagi tentang aborsi

Sebuah catatan…lagi tentang aborsi

Aku menatap wajah tampan bayiku yang sedang tidur lelap. Tampan sekali anak ini. Lalu teringat beberapa menit yang lalu matanya yang indah menatapku ketika menyusu, bening sekali.

Hmm...memoriku kembali memutar ketika kontrol kehamilan pertama, dokter nampak cukup 'terkejut' dengan usiaku mengijak 42 tahun dan sudah memiliki 2 anak. Dokter tersebut bertanya "Bu, ini memang ingin punya anak lagi di luar rencana?".  Aku menjawab apa adanya, "Memang tidak merencanakan, tetapi saya mau kok punya anak lagi". Lalu dokter tersebut menyampaikan resiko kehamilan pada usia di atas 40 tahun,  seperti kemungkinan bayinya menderita “down syndrom’ akan  lebih besar daripada kehamilan di bawah 40th. Bahkan dokter tersebut menyampaikan bahwa ada tehnologi untuk mengetahui janin tersebut down syndrome sejak masih dalam kandungan (kalau tidak salah pada usia kehamilan 3bln).

"Kalau sudah diketahui  lebih dini apakah bisa diobati sehingga lahir normal?" saya bertanya.
"Intinya TIDAK BISA karena berkaitan dengan kromosom (semoga ingatan saya ini bener)" jawab Sang dokter.
"Kalau begitu saya tidak perlu cek, karena apapun kondisi dan resikonya saya akan berjuang mempertahankan bayi saya" kata saya menyambung pernyataan Sang dokter.

Setelah itu saya tidak kembali ke dokter tersebut, dan pindah ke dokter lain untuk melanjutkan kandungan saya. Melanjutkan sebuah kehidupan baru yang ada di dalam perut saya.

Beberapa hari kemudian saya bertemu seorang teman, lagi-lagi saya bertemu dengan manusia yang  menyampaikan kemungkinan 'membuang' janin dengan  berbagai pertimbangan rasio manusia. Saya terkejut dan tidak menyangka teman saya itu yang saya pikir punya pandangan yang sama tentang nilai sebuah ‘nyawa’ ternyata punya pikiran seperti itu.

Beberapa hari kemudian saya bertemu dengan salah seorang klien saya untuk pamit karena saya resign dari pekerjaan saya. Beliau menyampaikan hal yang kurang lebih sama dengan yang disampaikan dokter kandungan yang sudah saya temui itu. Menurut beliau kalau sudah menjukkan adanya kelainan/cacat pada janin mungkin tidak perlu terlalu berusaha dipertahankan.

Saran-saran atau masukan yang 'menakut-nakuti saya tidak menggoyahkan sedikit pun niat saya mempertahankan anak yang ada dalam kandungan ini. Dia darah daging saya sendiri, harus saya sambut dengan penuh cinta. Sebenarnya pikiran saya sederhana, manusia tidak berhak menentukan nyawa manusia lainnya. Apalagi nyawa janin yang tidak berdosa, yang tidak berdaya apalagi melawan. Sungguh kejam menghabisi nyawa yang tidak berdaya.. Membayangkan membunuh ayam saja saya tidak sanggup, apalagi membayangkan menghancurkan sebuah janin yang itu adalah darah daging sendiri...merinding.

Kini menatap anakku ini membawa saya berfikir, inilah anak yang oleh beberapa orang yang mengandalkan rasio pernah terlintas 'dilenyapkan' tanpa diberi kesempatan. Tidak terbayang anak seindah ini ditampung di sebuah ember kemudian dibuang ke dalam comberan atau jamban.

Pikiranku kembali melayang ke setahun yang lalu, sekitar hari ini setahun yang lalu anakku ini mengisi badanku.  Kehadiran anak ini di dunia bukan sesuatu yang kebetulan apalagi istilah banyak orang kebobolan  (saya selalu menghindari kata kebobolan, tetapi saya pakai istilah BONUS). Ini tentu bonus untuk hidup saya. Jika mau mamaknai dari pandangan agama, kehadiran anak tentu tidak lepas dari bagian rencana Tuhan. Kalau mau dilihat dari sisi sebuah sikap hidup manusia, maka kehadiran seorang anak adalah sebuah tanggung jawab yang harus diemban.

Sekarang saya membayangkan nasib janin-janin yang dibuang orang tuanya, tentu banyak yang harusnya lahir setampan atau lebih tampan dari bayiku ini. Sayang sekali, hmmm... sungguh saying sekali, mereka harusnya diberi hak dasarnya, hak hidupnya, namun hak itu direnggut oleh orang-orang egois yang memikirkan kepentingan diri sendiri, orang-orang yang tidak bertanggungjawab, orang-orang 'merasa' pintar, orang-orang yang mengandalkan otak dan tidak memakai hati, orang-orang yang takut kehilangan apa yang sudah dimilikinya, orang-orang yang takut dan takut….

Untuk siapa pun yang berniat melakukan aborsi, mungkin catatan saya ini mungkin kurang mampu mengetuk hati, namun bayangkanlah seorang bayi yang mungil dengan mata beningnya mengharap 'perlindunganmu' bukan 'ancaman.

back to top