Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Satu dekade tragedi dahsyat Tsunami Aceh

Satu dekade tragedi dahsyat Tsunami Aceh

KoPi|Tanggal 26 Desember 2004 merupakan hari yang bersejarah bagi masyarakat Aceh dan Indonesia. Tepat pada tanggal tersebut satu dekade sudah tragedi gempa disertai gelombang tsunami dahsyat berlalu menerpa Aceh dan sebagian Asia Tenggara, namun bayang-bayang kejadian tersebut masih terekam di memori masyarakat Aceh dan Indonesia.

Dibalik duka dari bencana tersebut, tersimpan duka yang sangat mendalam bagi masyarakat yang selamat dari kejadian tersebut, seperti Martinus yang terombang ambing dilautan selama 21 hari dari kayu ke kayu yang lain untuk bertahan hidup, pada akhirnya diselamatkan oleh nelayan dan diserahkan ke wartawan asing. Rahmi yang berhasil selamat dengan memanjat rumahnya hingga berhasil naik ke atas atap, Ayah Rahmi yang juga selamat berkat pertolongan jerigen minyak. 

Setelah gelombang surut masyarakat yang selamat berbondong mendatangi Masjid Agung Baiturahhman, disana air gelombang tsunami tidak sampai menyentuh lantai masjid. Tak jarang juga mereka tidur dengan mayat, yang awalnya selamat dan paginya masih berbincang-bincang malamnya menghembuskan nafas terakhir. 

Sangat disayangkan juga disaat terjadi bencana banyak pencuri-pencuri yang memanfaatkan keadaan dengan mengambil harta benda yang masih dikenakan oleh korban tsunami atau menyebarkan isu dengan datangnya tsunami lagi sehingga masyarakat ketakutakan dan melarikan diri ketempat yang lebih tinggi. Disaat keadaan sepi tersebut para pencuri beraksi dengan menjarah harta benda mereka. Para pelaku pencuri harta mendapatkan azabnya yaitu dihantui perasaan bersalah ataupun dihantui para korban dan tidak sedikitpun menjadi gila, karena pemerintah dan aparat kepolisian lebih memfokuskan kepencarian korban tsunami akhirnya kasus pencurian perlahan-lahan dilupakan. 

Dengan demikian, mengenang kembali kejadian Tsunami di Aceh bukan untuk membuka luka lama, tapi untuk dijadikan pelajaran berarti bagi hidup kita untuk  lebih mendekatkan diri pada sang ilahi. |dari berbagai sumber|Chan|

 

 

 

 

back to top