Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Sanggar kampung pinggiran Code 'SAKI' adakan festival Kampungku Uripku

Sanggar kampung pinggiran Code 'SAKI' adakan festival Kampungku Uripku

Jogjakarta-KoPi| Ruang hidup warga di kawasan urban Jogjakarta kini semakin terdesak dengan pembangunan mall dan hotel. Memperjuangkan ruang hidup menjadi keniscayaan yang dilakukan oleh warga.

Salah satu bentuk kepedulian terhadap kondisi saat ini CreativeNet bekerjasama dengan SAKI (Sanggar Anak Kampung Indonesia) memberdayakan masyarakat kampung. Mereka menekuni dunia kreatif untuk melakukan aksi. Langkah mereka dengan menggandeng komunitas GPP08 Prawirotaman II dan Komunitas cemara Ledok Code.

Seluruh praktik kreatif ini merupakan gagasan komunitas melanuching festival ‘Kampung Uripku’.  Bersamaan dengan festival akan dilaunching juga karya SAKI berupa gerobak perpustakan keliling dan gerobak outlet produk karya anak kampung.

Menurut panitia festival, Anang Nasihudin SAKI hadir merespon peliknya problem sosial dan kontekstual di masyarakat Jogja. Festival ini bentuk kemandirian masyarakat kampung mengimbangi dinamika perkembangan kota.

“Kami ada dua gerobak yang dilaunching, gerobak perpustakaan keliling itu menunjukna bahkan pendidikan itu gak harus mahal, kenapa kita pakai gerobak sebagi antisipasi kalau bantaran kampung kami terkena banjir dan gerobak ini lebih mobile,” jelas Anang saat konferensi pers di Kampung Ledok Tukangan pukul 14.00 WIB.

Selain konsern pada akses pendidikan, SAKI juga menaruh perhatian besar pada skill pemuda kampung. Adanya gerobak outlet produk karya anak kampung menjual produk warga SAKI.

“Di sini anak-anak mudanya membuat beragam produk, masalah kami adalah soal pemasaran sehingga kita akan mengelilingkannya dengan gerobak yang menarik ini,” kata Anang.

Festival “Kampungku Uripku” akan diselenggarakan pada tanggal 12 September-13 September di Kampung Ledok Tukangan. Turut hadir dalam festival tokoh budaya Jogja, Marwoto.

Acara kirab budaya menjadi prolog Festival “Kampungku Uripku” yang dilaksanakan pukul 15.30 WIB, lalu dilanjutkan launching gerobak perpustakaan. Malam harinya penampilan hiburan musik dan tari dari warga Kampung Ledok Tukangan. |Winda Efanur FS|

back to top