Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Salim Said: ISIS bukan soal agama, tapi politik internasional

Salim Said: ISIS bukan soal agama, tapi politik internasional

KoPi| Dalam sebuah diskusi berjudul 'ISIS Mengancam Kita? di stasiun TVOne, 25 Maret 2015, pengamat militer Prof. Salim Said mengatakan bahwa persoalan ISIS sesungguhnya merupakan represatasi dari persoalan politik internasional dan bukan agama. Politik internasional yang melibatkan kepentingan Amerika Serikat, Israel dan negara-negara teluk serta Arab Saudi.

Jika dirunut dari awal ISIS merupakan perkembangan dari apa yang terjadi di masa perang Afghanistan yang melibatkan Rusia sebagai pendukung pemerintahan Afghan dan Amerika Serikat yang mendukung kelompok Mujahidin yang melawan pemerintah Afghanistan masa itu di paroh 1980-an.

Menurut Salim said, Afghanistan merupakan tempat pertama dimana Amerika Serikat mengumpulkan kalangan radikal Islam di seluruh dunia dan menjadikan mereka sebagai semacam Vietkong untuk melawan Rusia. Itu merupakan catatan penting pertama, katanya.

Hal ke dua yang harus dipahami adalah fakta bahwa ISIS merupakan perpecahan yang terjadi diantara para mujahidin suni eksrim melawan Basyar Arsad di Suriah dan melibatkan konsiprator di luar Suriah seperti Arab Saudi yang mendanai kaum suni dan Amerika Serikat dan CIA.

Akar ISIS menurut Salim adalah perpecahan Al qaeda yang menjadi radikal melawan syiah di Irak. akibat kesalahan Amerika Serikat mengangkat PM Nuri Al Maliki yang tidak mampu berbuat adil terhadap kalangan suni di Irak, terutama di Trikit.

Selain itu ada krisis otoritas keagamaan di kalangan Islam radikal, yaitu tidak adanya pemimpin Islam di antara kalangan Islam. Arab Saudi dianggap sebagai sekutu Amerika Serikat dan Syiah dianggap kaki tangan Teheran.
Situasi itu menyebabkan situasi chaos dan inilah yang menyebabkan munculnya ISIS dengan konsep khalifahnya yang didanai Arab Saudi.Di sisi lain ada pergerakan kalangan intelijen AS dan Israel yang mendorong kehancuran kekuatan Sadam Huesein dan kemudian menciptakan ISIS.

Itulah mengapa, simpul Salim, ISIS memiliki dana yang besar. Selain mereka mendapatkan dana dari Arab Saudi, ISIS juga mendapatkan rampasan perang berupa ladang minyak sekitar 300 sumber dan wilayah yang semakin membesarkan pundi-pundi dana mereka. Dan pertanyaanya adalah, mengapa ISIS bisa menjual minyaknya, sementara mereka dianggap sebagai teroris yang mengancam dunia? Demikian analisis Prof. Salim Said.| E Hermawan

back to top