Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Sadranan/Ruwahan Kelurahan Gedongkiwo

Sadranan/Ruwahan Kelurahan Gedongkiwo

Siaran Pers

Yogyakarta-KoPi-Sadranan/Ruwahan merupakan salah satu tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat Yogyakarta meskipun saat ini sudah mulai luntur.  Disebut “ruwahan” karena tradisi tersebut dilakukan di bulan Ruwah (penanggalan Jawa) yang dalam penanggalan hijriyah disebut bulan Sya’ban yaitu sebelum menginjak bulan Ramadhan. Sedangkan “sadranan” sendiri berasal dari kata Srada yaitu istilah yang digunakan umat Hindu sejak jaman kerajaan Majapahit, untuk sebuah upacara pemuliaan roh leluhur yang telah meninggal. Dari Srada itulah kemudian dikenal dengan tradisi Nyadran atau Sadranan. Pada hakekatnya tradisi ruwahan atau nyadran tak jauh berbeda yaitu mendoakan para leluhur yang telah mendahului kita.

Dalam tradisi ruwahan atau sadranan sangat kental terasa nilai-nilai tradisi budaya Jawa yaitu semangat gotong royong dan guyub rukun dan saling membantu. Semangat tersebut perlu terus dilestarikan. Hal inilah yang ingin dikembangkan melalui kegiatan Ruwahan/Sadranan di kelurahan Gedongkiwo dengan menyesuaikan perkembangan jaman tanpa mengurangi esensi dan makna dari ruwahan/sadranan tersebut. 

Rangkaian tradisi nyadran/ruwahan akan diawali dengan pembuatan ketan, kolak dan apem. Pada hari pertama (Sabtu, 7/6) setiap warga RT berkumpul di suatu tempat di RT masing-masing, pada malam hari bekerjasama membuat adonan kue apem dan persiapan lainnya. Hari Sabtu malam  akan dilaksanakan doa keselamatan miwiti ngebluk akan dipusatkan di Pendopo Cokrosenan, setelah itu secara serempak dikerjakan ngebluk oleh warga Gedongkiwo di wilayah RT masing-masing. Di pendopo Cokrosenan dilanjutkan sarasehan tentang tradisi sadranan/ruwahan dengan nara sumber pakar budaya dengan selingan grup musik bambu. Sementara itu di sepanjang jalan protokol Gedongkiwo akan dipasang tenda untuk berjualan dan pameran produksi lokal baik kerajinan maupun kuliner.

Hari Minggu (8/6) jam 15.00 di pendopo Cokrosenan, warga RT membawa ketan, kolak dan apem lengkap di atas nampan tambir yang dihias daun pisang yang dipersiapkan masing-masng RT untuk dikirab keliling kampung Gedongkiwo. Iringan kirab diawali drum band TK ABA, drum band SMP Al-Islam, bergodo Nitimanggolo, dan warga masyarakat. Dan pada malam harinya diselenggarakan pentas kesenian di pendopo Cokrosenan,  balai RK Gedongkiwo dan pendopo Herjanan.

back to top