Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Saat ponsel dilarang dibawa ke sekolah

Saat ponsel dilarang dibawa ke sekolah
Surabaya – KoPi| Peraturan sekolah kadang masih berupa prosedur yang harus dijalankan. Itu membuat siswa merasa menaati peraturan karena rasa takut, bukan karena mengerti. Ketakutan tersebut kadang membuat siswa berpikir tidak rasional, seperti kasus jatuhnya siswa dari gedung sekolah karena berupaya menyembunyikan ponsel temannya baru-baru ini.

“Peraturan yang ditegakkan secara konsisten akan membuat siswa mematuhinya. Jika peraturan hanya dijalankan secara sporadis, razia secara acak, hanya akan membuat siswa mencuri-curi kesempatan,” terang Sosiolog Pendidikan Tuti Budirahayu di Surabaya (16/10).

Jika peraturan membuat anak takut, peraturan itu artinya tidak berhasil mengakomodasi kebutuhan anak. Di jaman sekarang, alat komunikasi seperti telepon seluler bukan lagi keinginan, namun sebuah kebutuhan. Siswa juga perlu ponsel untuk dapat berhubungan dengan keluarganya. Keluarga pun dapat memantau keadaan siswa melalui alat komunikasi.

Larangan membawa ponsel ke sekolah seharusnya sudah waktunya direvisi. Perlu aturan baru yang bisa menyenangkan semua pihak. 

“Ponsel sekarang sudah jadi kebutuhan. Memang siswa perlu dilarang menggunakan ponsel pada jam belajar. Tapi kan bisa diatur, misalnya siswa harus menyerahkan ponsel mereka di ruang guru begitu pelajaran dimulai. Guru bisa menjaga ponsel mereka dengan aman, dan murid tidak lagi harus sembunyi-sembunyi jika perlu membawa ponsel. Orangtua juga tetap bisa memantau keadaan siswa di sekolah,” cetus Tuti.

back to top