Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Rokok elektronik bukan solusi berhenti merokok

Rokok elektronik bukan solusi berhenti merokok
Surabaya – KoPi | Kementerian Perdagangan berencana membatasi impor rokok elektronik pada tahun 2015 ini. Meski demikian rokok elektronik ini masih populer dikalangan perokok Indonesia. Rokok jenis ini diklaim bebas polusi dan tidak berbau karena mengeluarkan uap, bukan asap. Bagi beberapa pengguna, rokok elektronik disinyalir dapat membantu mengurangi konsumsi terhadap rokok.

Namun kenyataannya beberapa pengguna rokok elektronik mengaku malah semakin giat menggunakan rokok jenis ini. Walau awalnya mereka berniat menggunakan rokok elektronik untuk meninggalkan rokok tembakau, mereka justru malah ketergantungan dengan rokok elektronik.

Adit, salah seorang mahasiswa pengguna rokok elektronik mengatakan, ia menggunakan rokok jenis ini untuk mengurangi kebiasaan merokok. Namun ia justru tak bisa berhenti menggunakan rokok tersebut. Adit mengaku walau rasanya jauh berbeda dengan rokok biasa, ia menikmati rokok elektronik karena mengandung banyak varian rasa.

“Sudah 3 bulan pakai rokok ini, tapi malah nggak berhenti-berhenti,” ujarnya.

Apakah rokok elektronik lebih aman? Ternyata tidak. The New England Journal of Medicine pernah mengemukakan bahwa rokok elektronik melepaskan senyawa formaldehida. Zat tersebut bisa menjadi penyebab kanker (karsinogen) ketika dipanaskan dengan baterai yang diatur pada tegangan tinggi.

Tidak hanya itu, David Peyton, seorang ahli kimia di Portland State University dan rekan-rekannya juga menguji rokok elektronik dengan dua pengaturan tegangan yang berbeda. Hasilnya, formaldehida tidak terdeteksi ketika rokok elektronik dalam tegangan rendah. Tetapi dalam pengaturan tegangan tinggi, kandungan formaldehida bisa 15 kali lebih banyak dari rokok biasa.

Para peneliti dari Washington University juga menemukan rokok ini tidak terlalu efektif dalam mengurangi konsumsi penggunaan pada rokok. Sebaliknya rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok tembakau. Dari penelitian tersebut, perokok tanpa varian rasa lebih berhasil menghentikan kecanduannya 4 tahun lebih cepat dibanding dengan perokok yang menggunakan variasi rasa.

Rokok yang kini digunakan lebih dari dua juta orang ini memiliki jenis varian rasa di dalamnya. Rokok elektronik ini pertama kali dipatenkan oleh apoteker asal Tiongkok, Hon Lik, pada tahun 2003. Ia mendesain rokok elektronik sebagai alat penguap bertenaga baterai yang dapat menimbulkan sensasi seperti merokok tembakau. | Labibah

back to top