Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Rokok elektrik menyebabkan kerusakan protein dalam sejam

Rokok elektrik menyebabkan kerusakan protein dalam sejam
Efek Vapour (uap) mengambil jalur yang sama seperti asap rokok di dalam tubuh. Ahli mengatakan asap rokok elektrik dapat mengganggu proses sel-sel protein dalam satu jam. Gangguan jangka panjang untuk proses protein dapat menyebabkan gangguan kondisi paru-paru. WHO mengatakan kondisi paru-paru kronis akan menjadi penyebab utama kematian ketiga global pada 2030.
 
KoPi | Penggunaan e-rokok dalam jangka panjang dapat menyebabkan kondisi paru-paru kronis, para ilmuwan telah memperingatkan. Peneliti AS menemukan uap e-rokok mempengaruhi sel-sel di paru-paru dengan cara yang sama seperti asap rokok, bahkan hanya setelah satu jam. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan emfisema, yang juga dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronik atau COPD. Meskipun ini merupakan temuan awal, para ahli menganggap hasil tersebut signifikan.
 
Seperti yang dikutip dari situs dailymail, Dr Nicholas Hopkinson, penasihat medis untuk British Lung Foundation mengatakan bahwa kebanyakan orang cukup yakin bahwa e-rokok memiliki bahaya lebih sedikit dari pada rokok biasa. Pertanyaannya sekarang adalah apakah e-rokok tidak berbahaya, namun sekarang ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa terdapat beberapa bahaya.
 
Sebuah perhatian pada beberapa orang yang memiliki penyakit paru-paru yang merokok, COPD merupakan istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan penyakit paru-paru kronis yang membatasi aliran udara ke paru-paru, termasuk penyakit seperti bronkitis kronis dan emfisema.
 
Gejala yang paling umum dari COPD adalah sesak napas, atau kekurangan udara, dan produksi berlebihan lendir di saluran udara bagian bawah. Hal ini bukan hanya sekedar ‘batuk perokok’, namun di bawah diagnosa, ancaman kesehatan karena penyakit paru-paru dapat semakin menyebabkan kematian, WHO mengingatkan.
 
Menurut perkiraan terbaru, saat ini 64juta orang memiliki COPD dan 3 juta orang telah meninggal karena COPD. WHO memprediksi bahwa COPD akan menjadi penyebab utama kematian ketiga di seluruh dunia pada tahun 2030. Sebagai bagian dari studi ini, peniliti AS meneliti bagaiman uap e-rokok dibanding asap tembakau dengan menguji bagaimana hal tersebut mempengaruhi sel-sel.
 
Mereka mengekspos sel epitel bronkus manusia – sel dari lapisan bronkus, jaringan tabung yang digunakan untuk menyalurkan udara ke paru-paru – dan memaparnya dengan uap e-rokok dari satu hingga enam jam. Tim menemukan bahwa dalam paparan minimal uap e-rokok selama satu jam, dapat mengganggu proses protein dalam sel secara signifikan. Ini merupakan cara yang sama yang terjadi pada perokok aktif dan perokok pasif.
 
Protein homeostasis atau ‘proteostasis’ adalah proses yang mengatur protein dalam sel untuk menjaga kesehatan sel dan organisme itu sendiri. Di paru-paru, alveoli memiliki dinding yang terbuat dari protein. Jadi proteostatis merupakan proses normal di mana protein ini dipecah dan diregenerasi sehingga dapat berfungsi dengan baik. Jika proteostasis terganggu, alveoli menjadi rusak, maka tidak dapat teregenerasi, sehingga paru-paru tidak dapat melaksanakan fungsinya untuk pertukaran oksigen dalam darah.
 
Para peneliti menemukan bahwa uap e-rokok tidak mengganggu proses protein, namun dalam penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan COPD. Tim mengkonfirmasi temuan dengan tes pada tikus laboratorium yang dikenai uap e-rokok dan menemukan hasil yang sama. Dr Neeraj Vij, asisten profesor di Michigan Central University College of Medicine mengatakan bahwa COPD/emfisema bukan merupakan kelainan genetik. “Kami telah menggambarkan peran pengolahan protein keseluruhan dalam hal ini dan dalam penelitian sebelumnya, yang tekah dikonfirmasi oleh penelitian dari kelompok lain.”
 
“Apa yang kita bicarakan adalah bagaimana protein ini dibuat dan bagaimana mereka terdegradasi. Proses proteostasis dalam sel kita harus sagat – dalam istilah awam – diatur dengan erat karena jika menjadi tidak seimbang, akan menjadi masalah besar.” Penemuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of the Federation of American Societies for Experimental Biology.
 
Dr Nicholas Hopkinson mengungkapkan bahwa seseorang yang menderita COPD lebih baik berhenti merokok dan menggunakan e-rokok karena rokok konvensional jauh lebih berbahaya. Namun hal tersebut bukan berarti membenarkan penggunaan e-rokok jangka panjang, sehingga dianjurkan pula untuk menghentikan penggunaan e-rokok karena efek jangka panjangnya. Resiko penggunaan e-rokok bervariasi, bergantung pada ‘penyedap’ dan perangkat yang digunakan. Ada cukup argumen yang kuat untuk regulasi sehingga e-rokok dapat bekerja dengan baik, sehingga perasa yang berbahaya dapat dilarang di pasar.|Diaz Septriana
 
back to top