Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Risiko masyarakat teknologi

Risiko masyarakat  teknologi

Ardhie Raditya


Bagaimana jadinya jika tiba-tiba listrik padam ketika debat capres sedang berlangsung sengit di televisi ?. Entahlah. Tetapi, inilah salah satu resiko potensial di dalam dimensi masyarakat teknologis.

Jacques Ellul (1980) sudah memprediksikan bahwa teknologi yang berkembang pesat akan menciptakan perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat. Pertama, masyarakat akan terpolarisasikan dalam kelas sosial baru berdasarkan penguasaan teknologi-informasi. Kedua, relasi antara kekuatan ekonomi dan pekerjan produktif bersifat fleksibel. Aktifitas produksi tidak lagi membutuhkan ruang dan waktu yang tetap. Ketiga, meningkatnya aktifitas paruh waktu.  

Ada tiga sumber kekuatan penggerak masyarakat teknologis. Yakni, kekuatan mesin, energi, dan aksesibilitas. Mesin dibutuhkan untuk mengurangi daya gerak tangan para manusia. Keberadaan mesin mempermudah pekerjaan manusia yang sebelumnya dirasakan sangat berat. Aktifitas pertanian yang mulanya menggunakan tenaga kerja manusia dan peran hewan ternah menjadi terkurangi dengan adanya inovasi mesin bajak sawah.

Tapi, pekerjaan mesin juga membutuhkan energi yang bisa menggerakkannya. Yakni, listrik dan bahan bakar minyak. Listrik merupakan energi yang bersifat modern karena peran kerjanya berdasarkan relasi arus melalui saluran kabel. Listrik tergolong energi olahan yang pada awal sejarah ditemukannya melalui rumus-rumus fisika dan kmia. Sementara itu, bahan bakar minyak merupakan energi yang tradisional karena pengelolaannya bersumber dari alam sekitar.

Kedua kekuatan itu akan bersifat absurd apabila tidak bisa dimanfaatkan oleh banyak orang. Para ilmuwan bekerja keras mengembangkan ilmu pengetahuan alam bertujuan dapat mempertahankan kelangsungan hidup dengan cara menaklukkan alam dan kebuasaan hewan liar. Karena itulah, penemuan mereka bukan berorientasi kepuasan pribadi, melainkan untuk kepentingan publik.

Berdasarkan narasi sejarah hidup Alfa Edison tampak bahwa dia mengidap penyakit amnesia. Lupa makan, lupa tidur, bahkan, lupa kalau dirinya sudah makan dan tidur. Hanya untuk menghasilkan penemuan berupa arus listrik, lampu, phonograp, dan lainnya. Produk kerja ilmiahnya hingga kini dimanfaatkan hampir semua orang dari berbagai belahan dunia.

Namun, efek dimensi teknologi bukanlah menciptakan kebahagian esensial. Dimensi teknologi ini menjadi bumerang simbolik yang berpotensi mencelakai kehidupan masyarakat. Kepemilikan teknologi bagi komunitas sosial tertentu menimbulkan kecemburuan sosial bagi komunitas sosial yang lain. Produksi teknologi komunikasi massal mereproduksi fetisisme baru di kalangan anak-anak muda. Ketenangan hidup semakin terusik dengan adanya suara-suara yang berisik karena kepadatan arus transportasi massal dan pembangunan infrastruktur di pedesaan.

Daya kognitif seseorang mulai mengalami penumpulan. Kerja otak kiri dan kanannya dipermudah dengan pengoperasionalkan kerja komputer dan internet. Beragam informasi bisa diakses melalui dunia maya dan bisa dimodifikasi dengan cara kerja kompoter. Bahkan, hasil modifikasi itu dapat diklaim milik pribadi yang otentik dan absah. Belakangan juga terdengar isu bahwa ada salah satu tim sukses yang merekayasa hasil riset elektabilitas capres tertentu. Padahal, riset politik itu difabrikasi dari riset elektabilitas politik di negara Amerika beberapa tahun lalu.

Media elektronik sebagai bagian dari perkembangan dimensi teknologi turut berperan menciptakan kesadaran palsu di tingkat massa. Isu-isu politik yang ditayangkan akan dapat memfetiskan dan memoles citra positif kelompok politik tertentu. Tetapi, membunuh karakter dan memporak-porandakan citra positif kelompok politik lawannya.

Mereka yang sadar akan politik lantas mencari tayangan televisi yang bernilai hiburan yang sarat dagelan dan bernuansa kesenian. Itulah bentuk resistensi budaya atas situasi politik yang mulai merambah dunia media massa. Tapi, mereka secara tidak sadar juga terjebak pada kekuatan komodifikasi budaya. Karena, apa yang dianggap menghibur itu tidak lebih sebagai produksi budaya yang dikonstruksikan media dengan tujuan surplus ekonomis. Bahkan, tidak ada satupun yang disebut hiburan dan seni kreatif di sana. Hampir semua program media itu telah terstandarisasikan, dalam arti saling bermimesis antar program hiburan yang satu dan yang lainnya.

Benar yang dikatakan Jacques Ellul, Sosiolog budaya dari Perancis, bahwa tidak ada istilah jalan balik dalam dimensi masyarakat teknologis. Masyarakat industri yang dikelilingi berbagai produk teknologi hanya bisa mengimajinasikan romantisme masa lalu. Mereka tidak bisa lagi merubah masyarakat teknologis menjadi masyarakat tradisional yang penuh dengan keguyuban, kelestarian alam, dan ketenangan psikologis.

Barangkali, hanya satu modal simbolik yang bisa menjadi juru penyelamat manusia di era teknologi ini. Yakni, cinta. Cinta bukanlah berkaitan dengan relasi fisiologis dan biologis. Cinta merupakan simbol relasi esensial dan kejiwaan antar manusia. Menurut Erich Fromm, cinta itu memiliki dua bentuk. Pertama, cinta memiliki (to have). Cinta model ini tak ubahnya cinta di dalam relasi produksi: siapa yang punya modal dialah yang menguasai. Cinta lantas menjadi relasi transaksional. Kedua, cinta untuk menjadi (to be). Cinta model ini adalah cinta yang memerlukan seni memperhatikan dan menumbuh-kembangkan potensi dan kebahagiaan sosial.

Lantas, masih adakah cinta untuk menjadi di dalam dunia politik sekarang ini jika saat kampanye capres saja masih ada tim sukses tertentu yang menggunakan dimensi teknologis untuk memanipulasi kesadaran masyarakat melalui media massa ? Entahlah.

*Musisi dan pengajar kajian budaya di Sosiologi Unesa

back to top