Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Revisi UU Ketenagakerjaan bisa mengancam hak anak-anak

www.historyplace.com www.historyplace.com
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) membuat usulan untuk merevisi UU Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003, khususnya pada perubahan batas usia minimal pekerja dari usia 18 menjadi setidaknya 17 tahun. Usulan ini beralasan pada sulitnya mencari tenaga kerja di sektor padat karya.

Yogyakarta-KoPi| Namun usulan ini sepertinya tidak akan mulus, mengingat banyak masyarakat tidak setuju dengan usulan API tersebut. Sari Murti, SH, misalnya, dari Yayasan Anak DIY menyatakan keberatan dengan revisi tersebut.

"Anak-anak merupakan aset bangsa. Penerus tongkat estafet kelangsungan suatu bangsa. Indonesia sendiri menempatkan posisi anak pada peran yang sangat penting sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karenanya masa depan anak-anak menjadi penting ”, kata ketua Yayasan Anak DIY tersebut.

Sari Murti menyayangkan sulitnya mewujudkan cita-cita luhur tersebut. Anak-anak kerap menjadi korban dalam pergulatan ekonomi. Di tengah usia belianya, anak-anak terpaksa bekerja guna memenuhi kebutuhan ekonomi.

Dia melihat pihak pemerintah memiliki komitmen yang bagus dengan UU ketenagakerjaan usia 18 tahun minimal anak berkerja. Namun di sisi lain masih rentan terjadi tarik-menarik yang imbasnya pihak anak yang dirugikan.

Senada dengan Sari, Direktur LBH APIK Yogyakarta Rina Imawati, SH juga berpendapat bahwa menurunkan batas usia di bawah 18 tahun sangat rentan bagi anak-anak.  Kondisi psikis dan psikologi mereka belum siap dan beresiko dimanipulasi oleh kepentingan pengusaha.

"Emosi mereka masih labil dan pengetahuan atas hak-haknya masih lemah. Kasihan kalau mereka harus bekerja tanpa skill yang mencukupi."

Rina bahkan mengkitisi konvensi ILO yang membolehkan anak usia 15 tahun bekerja, meksipun dengan syarat batasan jenis pekerjaan tertentu, masih tetap merugikan hak anak-anak dan rentan kekerasan.

" Usia 15 tahun itu kan usia anak sekolah SMP. Dalam usia itu kalau harus sekolah akan rentan dengan kekerasan dan manipulatif."

Poin penting ILO terikat pada dua hal. Batas minimum usia 15 tahun anak bekerja. Dan jenis-jenis pekerjaan anak. Dalam batas minimum usia 15 tahun ini, anak diberikan jenis pekerjaan yang ringan dan mendapat ijin tertulis dari wali atau orang tua.

“Hal ini pula sudah diberlakukan oleh undang-undang di Indonesia, tapi praktek lapanngan itu sangat susah. Banyak anak-anak yang bekrerja di tempat yang berbahaya misalnya mereka bekerja dikonstruksi bangunan sekalipun kerjaan mereka hanya jadi pelayan bantu, tapi lingkungan bangunan cukup membahayakan bagi keselamatannya”, papar Sari Murti.

Rencana Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang mengusulkan Revisi UU Ketenagakerjaan tentang batas usia di bawah 18 tahun untuk jenis pekerjaan padat karya, sebaiknya harus diawasi dan dikritisi untuk melindungi anak-anak dari eksploitasi. Sepertinya memang harus begitu. Jadi, Waspadalah!

back to top