Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Revisi Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak tidak efektif!

Revisi Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak tidak efektif! Sumber : www.tukarposisi.com

Surabaya-KoPi. Maraknya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia tak pelak menimbulkan keresahan mendalam terhadap diri setiap orang tua. Meningkatnya jumlah kekerasan seksual juga menjadi momok yang menakutkan. Menjawab keresahan tersebut, DPR kemudian mensahkan revisi Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dalam sidang paripurana DPR-RI pada 25 September 2014. Salah satu perubahan UU tersebut adalah memperberat hukuman bagi pelaku tindak kekerasan seksual,  efektifkah hal tersebut?

Sosiolog Unair sekaligus pemerhati anak Bagong Suyanto secara prinsip menyetujui adanya perubahan UU tersebut. Sebagai pemerhati anak, dirinya melihat bahwa perubahan UU yang disahkan tersebut lebih mempertimbangkan kepentingan anak seperti adanya akta kelahiran bagi anak yang tidak diketahui identitasnya dan memperberat sanksi bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Menurut Bagong Suyanto, Undang-undang tidak akan efektif jika tidak diimbangi dengan implementasi yang tepat sasaran.

“Setelah undang-undang itu direvisi, tugas pemerintah sekarang adalah memastikan rencana aksinya, apa yang akan dilakukan. Karena percuma ada undang-undang jika implementasi di lapangannya tidak efektif”

Implementasi memang menjadi ujung tombak dari efektif tidaknya UU atau kebijakan yang disahkan oleh pemerintah. Dalam hal ini, kontrol yang tepat terhadap perubahan UU tentang perlindungan anak memang sangat dibutuhkan, jika tidak justru nantinya korban dari kekerasan terhadap anak dapat semakin bertambah banyak. Ditetapkannya aturan hukum untuk melindungi anak memang penting, tetapi Bagong Suyanto menganggap bahwa tindakan pencegahan jauh lebih penting.

“Karena aturan hukum selalu bersifat kuratif, setelah kejadian aturan tersebut baru dapat diterapkan. Padahal kalau untuk anak yang penting adalah preventifnya, bagaimana mencegah” tambahnya.

Pemerhati anak tersebut menganggap perlunya dibentuk sistem perlindungan anak, termasuk bagaimana cara melakukan pencegahan agar kasus kekerasan anak tidak semakin bertambah. Selain itu juga diperlukan pembagian kerja antar berbagai pihak baik pemerintah, pemerintah daerah, LSM atau organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat itu sendiri.

 

Reporter : Aditya Lesmana

back to top