Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Rembang masih melawan

Rembang masih melawan

Rembang-KoPi| Keputusan hakim sidang PTUN (Peradilan Tata Usaha Negara) tahun 16 April 2015 lalu memenangkan pihak PT. Semen Indonesia (PT. SI). Keputusan yang terjadi sebulan lalu masih menyisakan luka di hati para warga Rembang.Setelah keluarnya putusan sidang PTUN kabar dari Rembang seolah meredup, namun penolakan justru semakin gencar dilakukan oleh warga.

Masyarakat Rembang menilai keputusan hakim kurang bijaksana. Pasalnya hanya membahas masalah kadaluarsa pengaduan warga bukan alasan dasar penolakan warga.

Menurut salah satu aktivis Rembang Dwi Cipta mengatakan masyarakat tetap menolak pembangunan pabrik semen meskipun kini pembangunannya hampir 50 %. Bahkan saat sidang PTUN berlangsung pembangunan sudah mencapai 40 %.

“Warga kini masih bertahan di tenda-tenda, dengan dijaga keamanan sangat ketat dari aparat”, papar Dwi Cipta ditemui setelah diskusi Film Semen Vs Samin di LKiS Jogjakarta.

Warga Rembang kini berupaya mengajukan banding. Warga berdalih tenggat 90 hari untuk sosialisasi pembangunan PT . SI tidak mengkutsertakan warga sepenuhnya hanya warga yang pinggir yang diundang menghadiri sosialisasi PT. SI.

Alasan warga masih menengahkan resiko kerusakan lingkungan hidup akibat penambangan pasir nantinya. Hal itu dikuatkan oleh pakar Geologi UPN Eko Teguh Paripurno aktivitas penambangan dalam jangka panjang akan merusak air warga Rembang.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dwi Cipta fenomena karst di bagian karst Kendeng secara morfologis eksokars, indokars, serta sistem sungai bawah tanah telah terbentuk sejak dahulu. Adanya perubahan ekosistem memicu bencana ekologis banjir dan kekeringan bagi sekitar kawasan warga. |Luthfia Lathifatul KLM, Winda Efanur FS|

back to top