Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Rektor UGM memperingatkan bahaya longsor susulan di Ponorogo

Rektor UGM memperingatkan bahaya longsor susulan di Ponorogo

Sleman-KoPi| Rektor UGM memperingatkan masyarakat di wilayah rawan bencana longsor Ponorogo untuk tetap waspada terhadap bahaya bencana longsor susulan dan banjir bandang.

 

Pasalnya berdasarkan tinjauan di lokasi bencana di dusun Banaran beberapa waktu lalu, Rektor UGM Dwikorita dan tim mitigasi bencana UGM menemukan tanda-tanda bencana belum selesai. Seperti terdapat retakan tambahan di titik awal longsor dan endapan longsor terhenti di tanah yang miring.

"Tempat bekas longsoran dapat menimbulkan bencana susulan jika terkena pemicu seperti hujan dan penggalian tanah oleh tim penyelamat dan warga. Longsor akan benar-benar berhenti jika sudah mendapat tempat yang datar, " ujar Dwikorita saat Jumpa Pers di UGM,Selasa (11/4)

Tim mitigasi bencana UGM juga menemukan beberapa genangan air yang terkumpul tidak jauh dari longsoran.

Bagus Bestari Kamarullah,anggota tim mitigasi bencana UGM mengatakan genangan air tersebut dapat menjadi penanda akan adanya kemungkinan banjir bandang disertai longsor susulan ke depan.

Banjir bandang tersebut dimungkinkan menjadi ancaman terbesar yang akan menimbulkan lebih banyak korban jiwa.

"Banjir bandang ini beresiko menelan lebih banyak korban jiwa, karena kemungkinan banjir ini akan terjadi saat para regu dan warga sedang menyelamatkan warga lainnya yang hilang dan tidak sadar jika bencana belum usai,"kata Bagus.

Terkait longsor yang terjadi di Ponorogo, Danang Sri Hadmoko, pakar Geologi UGM menjelaskan, longsor tersebut memiliki karateristik sama dengan longsor yang sering terjadi di Pulau Jawa.

“Karateristik longsor di jawa memakan lebih banyak korban meninggal dibandingkan korban terluka,terjadi dengan cepat dan memilki tipe luncuran yang kompleks seperti sliding, flow dan berotasi”, jelasnya.

Sementara menurut Danang pemicu dari longsor di Ponorogo adalah kemiringan tebing yang lebih dari 40 derajat, serta tanah yang kurang terkonsolidasi, ditambah hujan deras yang menyebabkan terjadinya longsoran.

"Proses pemicunya sendiri yaitu masuknya air ke tanah yang rawan, tanah yang gembur dan kurang terkonsolidasi dengan pemanasan matahari, terakhir tinggal menunggu waktu kapan longsor itu terjadi," jelas Danang.

Bencana longsor dan banjir bandang memang tidak dapat diprediksi kapan waktu terjadinya. Oleh karena itu,Rektor UGM menghimbau kepada masyarakat agar lebih waspada pada titik rawan bencana longsor disaat musim penghujan. Titik rawan sendiri bisa dilihat dan dirasakan, seperti tanah dengan tingkat kemiringan lebih dari 20 derajat dan tanah yang gembur.

Selain itu, Dwikorita juga meminta kepada badan penanggulangan dan pemerintah agar selalu menghimbau masyarakat terkait bencana longsor. Ia juga menyarankan agar masyarakat mengalah kepada alam dan meninggalkan lokasi yang berada di area potensi bencana longsor saat terjadi musim penghujan.

"Mari kita gencarkan kampanye untuk menghindari zona merah longsor, tinggalkan tempat yang berpotensi longsor. Pemerintah setempat juga perlu menutup jalan yang berada di zona merah longsor, kita perlu mengalah kepada alam setidaknya sampai musim penghujan selesai," pungkas Dwikorita.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top