Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Rektor UAJY buka seminar internasional hukum dan bisnis

Rektor UAJY buka seminar internasional hukum dan bisnis

Jogja-KoPi| Konferensi internasional yang mengangkat topik "Encouraging a Better ASEAN Community Relationship" merupakan kolaborasi antara program studi Magister Hukum (MH) dan program studi Magister Manajemen (MM) UAJY dan Fakultas Hukum UAJY.

Berlangsung selama 2 hari (16-17 Juni 2016) di Ballroom Indraprasta Sahid Hotel Yogyakarta. Acara dibuka oleh Rektor UAJY Dr. G. Sri Nurhartanto, S.H., L.L.M.

Konferensi internasional ini membahas secara mendalam isu-isu terkait dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah digulirkan sejak tahun 2015. Pembahasannya terbagi dalam plenary speech dan 3 presentation session.

Empat pembicara plenary speech adalah Professor Danture Wickramasinghe (University of Glasgow, United Kingdom), Professor Gabriel Moens (Curtin University, Australia), M. Parnawa Putranta, MBA, Ph.D. (UAJY), dan F.X. Endro Sosilo, S.H., L.L.M. (UAJY).

Konferensi internasional ini dihadiri oleh 118 orang partisipan, 40 orang di antaranya presenter yang menyampaikan makalah ilmiahnya dalam presentation session. Presenter berasal dari beberapa negara seperti Lesotho, Korea, Myanmar, dan Indonesia.

Partisipan dalam konferensi internasional ini mempunyai latar belakang yang cukup beragam, baik akademisi, peneliti, ahli hukum, praktisi bisnis, pemerintah, lembaga non pemerintah, maupun mahasiswa, khususnya mahasiswa pasca sarjana.

Paper dalam presentation session-pun cukup bervariasi, dari normatif maupun empiris, khususnya mencermati isu-isu yang timbul dari diberlakukannya MEA 2015, baik dari aspek hukum, aspek bisnis, maupun aspek sosial.

Dalam makalahnya yang berjudul, “Why is Positivistic Approach to Research in ASEAN Issues Insufficient?” Professor Danture Wickramasinghe, Guru Besar pada University of Glasgow, UK ini menjelaskan, bahwa kegagalan pendekatan positivistic berkenaan dengan isu-isu yang berkembang di ASEAN adalah:

1. Pendekatan Positivistik tidak mampu menemukan narasi terperinci tentang apa yang sebenarnya terjadi;

2. Tidak mampu memberikan kontribusi teoritis yang memadai; serta

3. Tidak mampu meyakinkan pihak lain tentang keganjilan dari isu-isu yang perlu segera ditangani.

Sedangkan Menurut Professor Gabriel A. Moens (Curtin University) dalam makalahnya yang berjudul, “Promoting Economic Opportunity through the Resolution of Disputes in the ASEAN Economic Community (AEC)”, bahwa karena mekanisme penyelesaian sengketa di dalam AEC itu lemah, maka kondisi tersebut secara potensial tentu berpengaruh terhadap peluang-peluang ekonomis AEC.

Untuk itu, dibutuhkan sebuah metode penyelesaian sengketa yang tangguh, yang secara menyeluruh mampu menyelesaikan persoalan yang berkembang di dalam lembaga ekonomi baru tersebut.”

M. Parnawa Putranta, MBA. Ph.D. (UAJY) dengan makalah berjudul, “ASEAN Economic Community and Corporate Governance Challenges.” memaparkan, bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN dibentuk untuk menciptakan lalu lintas perdagangan dan modal yang lebih bebas di wilayah 10 negara peserta.

Namun, persoalan yang harus dipahami adalah, karena oraganisasi tersebut terdiri atas pengelompokan ekonomi yang sangat tidak merata (Singapura – Brunei; Kamboja – Laos - Myanmar; Indonesia – Malaysia – Thailand - Pilipina - Vietnam) maka modal akan bergerak dari negara yang tingkat kesejahteraan rakyatnya tinggi menuju bangsa yang kurang sejahtera.

Demikian juga para investor, mereka akan memiliki keyakinan yang lebih besar untuk beroperasi di dalam perusahaan dengan tata kelola yang baik dan di pasar yang didukung oleh rezim hukum yang dan peraturan yang sehat.

Sementara itu, F.X. Endro Susilo, SH. LL.M. (UAJY) dengan makalah berjudul, “Regional Cooperation in Controlling Trans-Boundary Pollution in ASEAN Countries” menjelaskan, bahwa terdapat beberapa hambatan dalam penegakan hukum terhadap masalah polusi di ASEAN.

Antara lain, 1. tidak ada “hukum ASEAN”, perjalanan ke arah itu masih pada tahap awal, latar belakang yang berbeda dan sejarah hukum nasional masing-masing negara anggota yang berbeda menjadi penghambat bagi terwujudnya cita-cita ke arah itu;

2. Tidak ada peradilan di tingkat ASEAN : ASEAN Charter tidak mendukung pembentukan lembaga peradilan;

3. Instrumen hukum tidak akan berfungsi apapun tanpa adanya peradilan yang adil; 4.Tak ada kejelasan sistem hirarki dari instrumen hukum yang ada, dan yang tidak boleh diabaikan adalah; 5. Kemauan poliitk dari masing-masing negara anggota;

Konferensi internasional ditutup pada tanggal 17 Juni 2016 dengan acara gala dinner yang dihadiri oleh seluruh pembicara dan presenter, sekaligus penganugerahan the best paper award sebagai apresiasi atas paper terbaik yang dipresentasikan dalam konferensi internasional ini.

 

back to top