Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Redbase: Solo Exhibition DN Made Ardana Hana Tan Hana

Redbase: Solo Exhibition DN Made Ardana Hana Tan Hana

Jogja-KoPi| REDBASE Foundation Yogyakarta menyajikan pameran tunggal Dewa Ngakan Made Ardana berjudul “HANA TAN HANA: Death and Life of the Unknown”. Pembukaan Sabtu, 28 Mei 2016. Pameran berlangsung hingga 28 Juni 2016.

Pameran tunggal Dewa Ngakan "Hana Tan Hana: Death and Life of the Unknown" mencoba mengeksplorasi narasi visual yang mencakup ekspresi Bali secara umum dan logika "Hana Tan Hana", yang diterjemahkan secara bebas sebagai ada tetapi juga secara bersamaan tidak ada yang digunakan sebagai bahasa metaforik untuk menyelidiki sejarah sekitar 1965 di Bali.

Melalui penggunaan bahasa visual, sejarah dicernakan dan disajikan, seniman membawa audiens kepada sebuah hipotesis, dimana audiens dapat memahami fragmen atau potongan masa lalu yang bisa ditafsirkan dalam berbagai cara secara pribadi.

Pemanfaatan filosofi Bali ini sebagai kerangka acuan untuk memahami konsep-konsep yang abstrak seperti halnya dewa dan semua yang tidak material lain yang bersifat transenden. Demikian pula, Ardana, tampaknya membawa filosofi ini untuk memahami peristiwa genosida sekitar 1965.

dewa ardana

Dalam ranah subjektivitas, genosida sebagai peristiwa sejarah tergantung pada masing-masing tafsir subjektivitasnya. Ini adalah merupakan realitas yang hidup dari generasi tua yang telah jenuh dengan propaganda Orde Baru dan merupakan peristiwa yang meninggalkan trauma bagi generasi masa itu.

Sebaliknya, mungkin bagi generasi yang saat ini hanya menjadi mitos yang berjarak dengan sejarah nasional mereka sendiri. Hal ini Hana, ada, tetapi juga Hana Tan, tidak ada pada waktu yang sama.

Ardana, di sini, melalui karya-karyanya mempertahankan ruang-ruang ambiguitas dengan tafsir semantik yang bersifat individual. Ardana tidak bermaksud mempertarungkan nilai kebenaran sejarah versi tertentu, Ardana justru menggesernya menjadi permainan yang intim dan subyektif.
 
"Hana Tan Hana: Death and Life of the Unknown" mengungkapkan tiga tingkat interpretasi di lintasan kronologis melalui karyanya. Pertama, melalui bahasa metaforis dan simbolis, dimulai dengan tingkat Abstraksi penafsiran, dan kemudian masuk dalam tingkat Refleksi dan Realitas.

Setiap karya menjadi cermin dari langkah dan representasi. Serangkaian patung ukuran kecil berada dalam sejumlah abtraksi, bila kita menjelajahi karya ink on papernya kita masuk pada Refleksi dari interpretasi artis tentang sejarah, serta lukisan yang menggambarkan dimensi nyata dari cerita yang tertanam.

Dewa Ngakan Made Ardana tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Ia lahir di Bali pada tahun 1980. Ia lulus dari Institut Seni Indonesia Denpasar Jurusan Seni Rupa Murni. Saat ini ia adalah seorang seniman di bawah Redbase Manajemen Seni Jakarta, dan anggota dari Ceblang Ceblung Forum di Yogyakarta.

Sebagai orang Bali, artis mencoba melakukan investigasi identitas dan ide dari kampung halaman dan keluarga, kemudian dilanjutkan dengan ketertarikannya saat ini pada narasi sekitar peristiwa genosida sekitar 1965 di Bali.

back to top