Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Rasio elektrifikasi Jogja masih rendah

Rasio elektrifikasi Jogja masih rendah
“Kebetulan rumah saya di Seturan komplek pertokoan, ya sering mengalami mota-mati listrik. Kalau saya hitung selama setahun ini, pemadaman sudah belasan hingga puluhan kali”, tutur Herry Prabowo.

Yogyakarta-KoPi| Herry pakar kelistrikan PSE (Pusat Studi Energi) UGM menambahkan persoalan listrik di Yogyakarta selain pemadaman bergilir juga merambah sektor rasio elektrifikasi.

“Menurut data PLN sendiri kondisi rasio elektrifikasi Jogja masih rendah. Rasio elektrifikasi keadaan daerah yang sudah mendapat pasokan listrik dan yang belum mendapat pasokan listrik”, tutur Herry.

Di waktu yang berbeda, bagian jaringan PLN, Bambang Eko, menyepakati hal tersebut. “Kita memiliki cakupan yang luas. Setiap daerah daya yang dibutuhkan berbeda-beda. Seperti Kulonprogo membutuhkan daya yang besar, karena ada penambangan pasir besi ditambah rencana bandara baru. Nah, sedangkan untuk Gunung Kidul tahun kemarin pasokannya memang baru 60%, tapi tahun ini kami usahakan meningkat lagi”, papar Bambang Eko.

Meskipun beberapa daerah belum terjamah listrik dari pihak pusat melarang daya listrik di wilayah Jawa. “Dari pusat melarang Jawa menaikan daya, saya nggak tahu persoalannya tapi katanya di Jawa sudah terlalu tinggi. Lha, padahal kita masih saja mengalami mota-mati listrik”, sanggah Herry.

Mengenai hal ini Bambang meyakinkan untuk wilayah Jawa khususnya Yogyakarta pasokan sudah cukup. “Suplai listrik di Jogja selama tidak ada gangguan itu sudah cukup. Di Jogja kami memiliki cadangan 30 % dari total kapasitas. Kami ada daya 73% daya untuk kondisi normal dan aman”.

Kesimpang siuran pandangan mengenai listrik bukan sebatas pendapat tetapi harus menggambarkan kondisi yang sebenarnya di lapangan. hal ini menjadi tantangan bagi pihak PLN untuk semakin baik memperbaiki performanya dalam melayani masyarakat. |Winda Efanur FS|

back to top