Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Rancage, penghargaan yang terlupa dihargai

Rancage, penghargaan yang terlupa dihargai

Magelang-KoPi - Saat ini, Rancage telah berusia 26 tahun dan memberikan penghargaan kepada para sastrawan dan budayawan daerah. Sayangnya, pemerintah justru abai dengan gerakkan kebudayaan ini. Tidak sekali pun pemerintah pusat memberikan penghargaan, kecuali mengirimkan surat tagihan pajak Rancage sebagai yayasan.

Rancage, adalah kata sunda yang berarti sebuah proses yang dinamis utuk menuju kebaikan. Ajip Rosidi , salah satu sastrawan besar Indonesia, kemudian menjadikannya sebagai nama penghargaan bagi para sastrawan dan penggiat kebudayaan yang konsisten terhadap pelestarian tradisi bahasa dan kebudayaan daerah. Tujuannya, merangsang para penulis dan budayawan lain untuk terus berkarya dan melestarikan bahasa dan budaya daerah.

Pagi menjelang siang, Ajip Rosidi menerima tim KoranOpini.com untuk sebuah wawancara. Meskipun usianya telah genap 77 tahun, tubuhnya tampak bugar dan tampak masih berusia 50-an tahun. Wajahnya tenang dan menyimpan gumpalan pengetahuan yang mendalam. Ia menyilakan kami duduk di sebuah teras yang berangin sejuk, di rumahnya di kawasan Pabelan, Magelang.

1989 adalah tahun dimana Rancage diputuskan lahir, kenangnya.  Ajip Rosidi, kemudian  bercerita bagaimana keputusan itu harus dilakukan sebagai pribadi yang peduli. Sebab tak ada gunanya menunggu pemerintah yang tidak pernah hadir dan  menjalankan rekomendasi konggres-konggres bahasa dan budaya daerah yang didanai besar oleh pemerintah sendiri. Sepertinya pemerintah hanya mejadikan pelbagai konggres bahasa dan kebudayaan sebagai proyek semata, tuturnya.

“ Akhirnya saya berkesimpulan, saya berpikir apa yang  bisa saya lakukan secara pribadi. Saya melakukan apa yang bisa saya lakukan bersama teman-teman lain yang peduli. Ketika saya memimpin Pustaka Jaya, saya menerbitkan buku-buku yang bisa mendukung kebutuhan kelestarian bahasa sunda.”

 Ketika kemudian ia tinggal di Jepang untuk mengajar di universitas Osaka, bersama Ibrahim Matalegawa, seorang staf di Pertamina  di Indonesia –mereka membuat sebuah penerbitan  Girimurti Pusaka yang bertujuan sama. Sayangnya penerbitan ini tidak bisa berlangsung lama karena sebuah kondisi.

Di saat itulah kemudian, Ajip Rosidi berpikiri membuat sesuatu yang bisa merangsang tumbuhnya semangat berkarya para sastrawan dan budayawan daerah. Saat itu masih hanya sunda. Tetapi saat ini, selain sunda, Yayasan Rancage juga telah meberikan penghargaan kepada Jawa, Bali dan Lampung.

Ajip Rosidi menyebut minimal 3 tahun berturut-turut secara konsisten berkarya untuk bisa diusulkan mendapat penghargaan Rancage. Mereka mendapatkan sejumlah uang dan piagam penghargaan. Gerakkan ini ternyata memiliki efek yang baik yang menstimulus para sastrawan dan budayawan semakin peduli terhadap bahasa dan kebudayaan daerah.  Di Jawa Barat sendiri, saat ini sastra sunda berbahasa sunda cukup lalku di masyarakat. Ia berharap, semoga daerah-daerah lain hadir para sastrawan dan budayawan yang terus konsisten berkarya dan menjaga kebudayaannya.

Tampaknya, pemerintah sudah saatnya malu diri dan peduli kepada pendidikan yang berbasis kebudayaan serta mendukung gerakan kebudayaan seperti ini. Mungkinkah pemerintahan Jokowi mendatang berpikir seperti ini?

Reporter: Ranang Aji SP, Suci Wulandari, Mohamad Yani

back to top