Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Puisi dan kemusnahan tirani

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Puisi seakan telah kehilangan potensi revolusionernya.

Puisi, sesungguhnya dapat digunakan sebagai penyalur gagasan perubahan sosial. Bahkan, bukan hal yang mustahil bagi puisi untuk meruntuhkan kelaliman suatu rezim. Suaranya mampu menjangkau nurani setiap orang. Puisi mampu untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat tertindas untuk mencanangkan sebuah revolusi.

Saya jadi teringat akan sebuah esai karya Zhange Ni yang berjudul A New Defense of Poetry: Vital Power, Bio-Capitalism, and Ally Condie’s Matched Series. Dalam esai ini, Zhange Ni mengangkat novel Matched karya Ally Condie yang mengisahkan perjuangan tiga sekawan, Cassia, Xander, dan Ky melawan sebuah rezim rasionalitas yang menyeragamkan segala aspek kehidupan masyarakat nya, mulai dari pernikahan, pola pikir, tanaman yang boleh ditanam dan tidak, sampai penyeragaman tinggi pohon yang tumbuh di taman kota.

Setiap orang di kota itu membawa tiga pil. Pil hijau untuk menenangkan, pil biru untuk menyediakan nutrisi, dan pil merah untuk membersihkan ingatan. Masyarakat pada novel Matched digambarkan telah kehilangan kemampuan nya untuk menulis, mereka hanya mampu mengetik melalui pod atau komputer.

Cassia, seorang penyair, bersama dua kawan nya, Xander si Fisikawan, dan Ky si Pilot, bekerjasama untuk mencari ramuan yang dapat menyadarkan penduduk di kota itu. Perpecahan dan rasa cinta antara Cassia dan Xander menjadi bumbu tersenidri dalam novel ini. Beragam upaya terus mereka lakukan untuk menemukan formulasi ramuan yang tepat, sampai akhirnya, puisi hadir menjadi penawar yang tepat.

Ini karena puisi merupakan media yang mampu menyetuh perasaan dan kemanusiaan para penduduk, yang sudah termakan oleh doktrin rasionalitas yang ditanamkan rezim. Puisi adalah satu kesatuan utuh perasaan dan ilmu pengetahuan, dua dimensi yang ada pada diri manusia. Ia memiliki rasionalitas, di saat bersamaan. Karena alasan itulah, dalam novel tersebut, rezim rasionalitas dapat dilumpuhkan melalui puisi.

Sebelum rezim Orde Baru runtuh oleh pemberontakan masif yang terjadi di akhir medio 1990, Wiji Thukul, penyair dan aktivis Hak Asasi Manusia, muncul sebagai sosok sarat perlawanan melalui untaian lirik puisinya. Puisi yang dibungkus bak orasi perjuangan, berhasil membakar animo perlawanan masyarakat untuk menjatuhkan rezim Totalitarian Soeharto.

Seakan tanpa lelah, walaupun Wiji harus menghadapi beragam bentuk intimidasi dan ancaman penculikan, semangatnya untuk terus menulis dan berpuisi tak mampu disurutkan. Puisi Wiji bukanlah lirik menye-menye yang sebatas mengedepankan keseragaman bunyi dan kekayaan diksi, namun kering akan esensi, justru sebaliknya, tuturan nya sederhana, tegas, dan tanpa tendeng aling-aling, namun sarat akan pesan pembebasan!

Hebatnya, sampai hari ini, meski keberadaan nya masih berupa teka-teki. jiwa dan suaranya terbukti masih abadi dalam diri mereka yang menentang keras ketidakadilan. Sosok nya dterus diabadikan dalam beragam karya, mulai dari tulisan, buku, maupun film.

Nilai suatu puisi tidaklah selalu terletak pada aspek bahasa dan estettika nya belaka. Lebih dari itu, ia adalah seruan perlawanan bagi mereka yang merasa keadilan nya dicuri, hak-hak nya dirampas, dan suaranya dibungkam. Di tangan seorang pembawa perubahan, puisi bisa menjadi sebuah panji perjuangan di tangan kanan, dan kepalan tinju di tangan kirinya

 

back to top