Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Puisi dan kemusnahan tirani

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Puisi seakan telah kehilangan potensi revolusionernya.

Puisi, sesungguhnya dapat digunakan sebagai penyalur gagasan perubahan sosial. Bahkan, bukan hal yang mustahil bagi puisi untuk meruntuhkan kelaliman suatu rezim. Suaranya mampu menjangkau nurani setiap orang. Puisi mampu untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat tertindas untuk mencanangkan sebuah revolusi.

Saya jadi teringat akan sebuah esai karya Zhange Ni yang berjudul A New Defense of Poetry: Vital Power, Bio-Capitalism, and Ally Condie’s Matched Series. Dalam esai ini, Zhange Ni mengangkat novel Matched karya Ally Condie yang mengisahkan perjuangan tiga sekawan, Cassia, Xander, dan Ky melawan sebuah rezim rasionalitas yang menyeragamkan segala aspek kehidupan masyarakat nya, mulai dari pernikahan, pola pikir, tanaman yang boleh ditanam dan tidak, sampai penyeragaman tinggi pohon yang tumbuh di taman kota.

Setiap orang di kota itu membawa tiga pil. Pil hijau untuk menenangkan, pil biru untuk menyediakan nutrisi, dan pil merah untuk membersihkan ingatan. Masyarakat pada novel Matched digambarkan telah kehilangan kemampuan nya untuk menulis, mereka hanya mampu mengetik melalui pod atau komputer.

Cassia, seorang penyair, bersama dua kawan nya, Xander si Fisikawan, dan Ky si Pilot, bekerjasama untuk mencari ramuan yang dapat menyadarkan penduduk di kota itu. Perpecahan dan rasa cinta antara Cassia dan Xander menjadi bumbu tersenidri dalam novel ini. Beragam upaya terus mereka lakukan untuk menemukan formulasi ramuan yang tepat, sampai akhirnya, puisi hadir menjadi penawar yang tepat.

Ini karena puisi merupakan media yang mampu menyetuh perasaan dan kemanusiaan para penduduk, yang sudah termakan oleh doktrin rasionalitas yang ditanamkan rezim. Puisi adalah satu kesatuan utuh perasaan dan ilmu pengetahuan, dua dimensi yang ada pada diri manusia. Ia memiliki rasionalitas, di saat bersamaan. Karena alasan itulah, dalam novel tersebut, rezim rasionalitas dapat dilumpuhkan melalui puisi.

Sebelum rezim Orde Baru runtuh oleh pemberontakan masif yang terjadi di akhir medio 1990, Wiji Thukul, penyair dan aktivis Hak Asasi Manusia, muncul sebagai sosok sarat perlawanan melalui untaian lirik puisinya. Puisi yang dibungkus bak orasi perjuangan, berhasil membakar animo perlawanan masyarakat untuk menjatuhkan rezim Totalitarian Soeharto.

Seakan tanpa lelah, walaupun Wiji harus menghadapi beragam bentuk intimidasi dan ancaman penculikan, semangatnya untuk terus menulis dan berpuisi tak mampu disurutkan. Puisi Wiji bukanlah lirik menye-menye yang sebatas mengedepankan keseragaman bunyi dan kekayaan diksi, namun kering akan esensi, justru sebaliknya, tuturan nya sederhana, tegas, dan tanpa tendeng aling-aling, namun sarat akan pesan pembebasan!

Hebatnya, sampai hari ini, meski keberadaan nya masih berupa teka-teki. jiwa dan suaranya terbukti masih abadi dalam diri mereka yang menentang keras ketidakadilan. Sosok nya dterus diabadikan dalam beragam karya, mulai dari tulisan, buku, maupun film.

Nilai suatu puisi tidaklah selalu terletak pada aspek bahasa dan estettika nya belaka. Lebih dari itu, ia adalah seruan perlawanan bagi mereka yang merasa keadilan nya dicuri, hak-hak nya dirampas, dan suaranya dibungkam. Di tangan seorang pembawa perubahan, puisi bisa menjadi sebuah panji perjuangan di tangan kanan, dan kepalan tinju di tangan kirinya

 

back to top