Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Profesor Jerman Ajarkan Mahasiswa UMY, Teknik Pengukuran Air pada Makanan

Profesor Jerman Ajarkan Mahasiswa UMY, Teknik Pengukuran Air pada Makanan

Bantul-KoPi| Untuk mendukung kegiatan belajar mahasiswa, program studi Agroteknologi UMY mengundang dosen dari Jerman untuk mengajarkan tentang 'Food Analysis'. Oleh karenanya, Prof. Heinz-Dieter Isengard dari Institute of Food Science and Biotechnology, Stuttgart, Germany, diundang untuk menjadi pemateri dalam kuliah umum pada Kamis (27/10) di Ruang Stadium General Fakultas Teknik UMY.

Prof. Heinz menjelaskan kepada kurang lebih seratus mahasiswa Agroteknologi, tentang Teknik Pengukuran Air pada Makanan. Pengukuran kadar air pada makanan dinilai penting karena akan mempengaruhi kualitas produk.

"Contohnya seperti jus jeruk. Bila kadar air yang ditentukan 10%, maka harus tepat 10%. Tidak boleh kurang atau lebih. Karena bila kurang nanti akan terlalu banyak kandungan vitamin C nya. Dan itu akan berpengaruh pada kesehatan. Oleh karenanya, pengukuran kadar air juga harus dilakukan secara berkala," jelas Prof. Heinz.

Selama ini, pengukuran kadar air dalam makanan banyak menggunakan oven dan dilakukan secara manual. Namun Prof Heinz menyebutkan, saat proses pemanasan menggunakan oven, ada beberapa substansi lain selain H2O yang juga hilang.

"Saat dipanaskan, tidak hanya air yang menguap, tetapi ada senyawa lain yang ikut hilang seperti volatil, alkohol, dan lain-lain. Sehingga ini menjadi konsen dari perusahaan-perusahaan pangan yang hanya ingin mengukur kadar air saja," ujar Prof. Heinz.

Menanggapi masalah tersebut, Prof. Heinz memperkenalkan kepada mahasiswa teknik titrasi Karl Fischer. Titrasi sendiri adalah salah satu metode yang dipakai dalam analisis kimia kuantitatif untuk menentukan konsentrasi suatu larutan yang belum diketahui konsentrasinya dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya.

"Teknik titrasi Karl Fischer ini tidak seperti teknik titrasi manual yang mengidentifikasi hasil dengan warna merah muda yang standar. Warna dalam teknik titrasi Karl Fischer tidak bisa dideteksi. Dan teknik ini menggunakan voltase tertentu dalam pengukurannya," jelas Prof. Heinz sambil menunjukkan cara kerja teknik titrasi Karl Fischer dalam gambar.

Penggunaan metode titrasi Karl Fischer ini, dijelaskan Prof. Heinz sudah digunakan pada produksi laktosa di Jerman. "Namun sayangnya, metode titrasi Karl Fischer belum menjadi official method bagi pabrik susu. Padahal susu juga mengandung laktosa. Dan hasil uji dengan metode titrasi Karl Fischer pada susu sudah terbukti 95% akurat," tutur prof. Heinz. |Deansa

back to top