Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Presiden Jokowi dan sapi lokal

Presiden Jokowi dan sapi lokal

Presiden Jokowi tengah melakukan upaya swasembada daging sapi atau pangan. Program itu kemudian direalisasikan dengan memotong jumlah impor sapi asal Australia dari 250 ribu ekor sapi menjadi 50 ribu ekor saja saat ini.

“Kita harus punya keberanian untuk beralih dari konsumsi ke produksi. Selama ini, kita tidak berani berproduksi karena tidak ada kemauan,” kata Jokowi.

Tekad ini tentu harus kita apresiasi dan dukung sepenuhnya, mengingat banyak hal bangsa ini jarang mampu memanfaatkan sumber daya alamnya secara mandiri. Dan salah satu dari kesadaran itu adalah melakukan tindakan progersif seperti berani memutuskan tidak mengimpor sesuatu yang bisa kita produksi sendiri.

Program Jokowi ini selain memiliki nilai yang positif secara nasionalisme - juga berdampak positif pada kedaulatan pangan kita. Meskipun, pada awalnya pasar kita saat ini mengalami 'keterkejutan' dan diikuti hilangnya stok daging di pasar dan melambungnya harga daging sapi yang mencapai 150 ribu rupiah per kilogram.
Dari sisi situasi ini, tentu kita mendorong pemerintah agar cepat melakukan tindakan penyelamatan dengan memberikan pasokan daging sapi yang dibutuhkan pasar agar harga daging sapi menjadi turun seperti sediakala.

Tindakan memberikan pasokan ini tentu akan mengatasi tidak saja kenaikkan harga, tapi juga mampu meredam aksi para mafia daging sapi yang mungkin saja menahan stock daging sapi. Kita bisa memahami bahwa kebijakan pemerintah untuk mengurangi impor sapi dari Australia yang cukup tinggi tersebut menganggu para 'koboi' yang sudah terbiasa mendapatkan keuntungan dari bisnis ini.

Selain itu, mengatasi gejolak pasar dengan memasok kekosongan merupakan upaya pula untuk mengawal program swasembada daging hingga pada tujuan besar kita yaitu kedauatan pangan. Dan seperti harapan Jokowi serta masyarakat, suatu saat kita bisa mendapati harga daging sapi hanya 50 ribu rupiah perkilogram bila kita mampu produksi sendiri.

Sehingga kebutuhan kosumsi daging masyarakat yang saat ini masih rendah, sekitar 1,87 kilogram per kapita per tahun (di bawah rata-rata kosumsi negara-negara tetangga) dapat ditingkatkan dan disesuaikan dengan pendapatan masyarakat yang rata-rata masih jauh di bawah 5 dolar per hari.

Untuk itu, masyarakat harus pula bisa memahami dan bersabar serta mendukung upaya kedaulatan pangan ini, karena semua itu membutuhkan proses dan memiliki dampak-dampak. Selain harus mendukung, kita juga harus selalu kritis dan mengawal semua kebijakan pemerintah Jokowi, agar semua program itu berjalan lancar.

back to top