Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Presiden Barca Pertimbangkan Kondisi Sosial Politik di Qatar

Transformasi yang terjadi di kostum Barcelona Transformasi yang terjadi di kostum Barcelona Foto : financialfairplay.co.uk

Barcelona – koPi | Industrialisasi di dunia sepakbola telah mengubah wajah sepakbola, setidaknya dalam satu dekade terakhir. Bagaimana uang menjadi salah satu faktor penting dalam suatu dinamika klub maupun Liga.

Di periode 90an semua mata tertuju pada Liga Serie A, dimana negara Itali menjadi kiblat sepakbola di masa itu. Liga Premier Inggris dan La Liga Spanyol masih menjad "anak bawang" di benua Eropa.

Glamornya sepakbola negara yang sempat dipimpin Pemimpin Fasis, Benito Mussolini ini menjadi magnet bagi maestro sepakbola dunia saat itu. Marco Van Basten, Batistuta hingga Zinedine Zidane menjadi  beberapa nama yang sempat menghiasi sepakbola negara periah 3 kali Piala Dunia itu.

Namun seiring gencarnya investasi di tubuh sepakbola, secara perlahan tapi pasti Liga Serie A kehilangan pamornya. Puncaknya adalah terjadi skandal Calciopoli yang menyebabkan beberap tim mendapatkan sanksi, yang paling tragis adalah nasib Juventus yang harus terlempar ke divisi dua. Setelah peristiwa itu, Liga Premier Inggris menjadi primadona baru Sepakbola dunia.

Setelah dominasi Manchester United dan Arsenal di awal millenium, muncullah kekuatan baru yang diawali dengan diakuisisinya Chelsea oleh Abramovich. Tak butuh waktu lama, beberaa gelar domestik diraih dan Chelsea menjadi perusak dominasi Manchester united dan Arsenal. Hal ini menginspirasi Sheik Manshour untuk mengambil alih Manchester City dari mantan PM Thailand, Thaksin Sinawatra. Seperti halnya Chelsea, hanya beberapa tahun setelah menggelontorkan sejumlah dana di bursa transfer, Manchester City mampu menjadi kampiun Liga Premier di musim 2011-12 dan tahun 2013-14.

Kemampuan finansial, menjadi faktor penting dalam kerasnya persaingan di benua Eropa. Hal ini pula disadari oleh Barcelona. Sebelum memasuki era 2000-an, Barca enggan membubuhkan nama sponsor di kostum mereka. Namun tradisi ini “dilanggar” dengan menuliskan salah satu pihak yang menjadi bagian dari PBB, UNICEF di dada setiap kostum Barca. Hal ini, selain atas pertimbangan kemanusiaan juga secara rutin klub mendonasikan sekitar 1,25 juta euro pertahun yang ditujukan sebagai bagian amal kepada anak-anak setiap tahunnya.

Namun barca akhirnya tak berbeda dengan klub lainnya, akhirnya di musim 2011-2012 Barca merelakan kostumnya dibubuhi Qatar Foundation sebagai bagian dari kerjasama sebesar 150 juta pounds.

Saat ini, Barcelona meninjau ulang hubungan kerjasama dengan sponsor mereka setelah emburuknya kondisi sosial dan politik di negara Qatar.

Kerjasama  yang dibangun sejak 2010 dengan Qatar Sport Investments, yang akan habis tahun depan, Presiden Barca Josep Maria Bartomeu mengonfirmasi klub saat ni mempertimbangkan masa depan sponsor klub yang menjadi rival abadi Real Madrid itu.

Seperti yang dilansir RAC1, Bartomeu mengakui bahwa perubahan kondisi sosial dan politik di Qatar menyebabkan klub untuk mempertimbangkan kembali hubungan kerjasamanya.

"Kami akan mencermati opsi-opsi lain- kami terpaksa melakukannya." Katanya

“Ini akan berakhir pada 2016. Kami sangat sensitif terhadap perkembangan terbaru di Qatar, yang telah berubah sejak empat tahun yang lalu. Kondisi sosial dan politik yang terjadi saat ini di Qatar tidak kami dapati ketika menandatangi kerjasama ini.”

“Kami diharuskan sensitif terhadapa apa yang terjadi dan membuat keputusan terbaik bagi Barcelona. Agen kami, IMG terus mempelajari dan bekerja dengan kami. Kami akan melihat aa yang terhadi di bulan Oktober 2015.”

Mantan juara Liga Champions ini menjadi sedikit tim di dunia yang tidak menggunakan sponsorship di jersey mereka. Barcelona menggunakan sponsor kala bekerjasama dengan UNICEF di tahun 2006. Logo UNICEF masih bisa ditemukan di kostum bagian belakang Barcelona.

Bagaimanapun juga, Bartomeu menganggap hal yang utopis dan ia percaya dengan mencantumkan sponsor amal akan membuat Barcelona harus bersusah payah berjuang untuk berkompetisi dengan rival-rivalnya.\

"Situasi sepakbola saat ini sudah banyak berubah. Kamii harus berkompetisi dengan seluruh tim. sekarang kita bisa saksikan bagaimana orang-orang China sudah mengakuisisi Atletico Madrid dan Valencia"

 

“Menjadi utopian jika terus menempatkan UNICEF di jersey, tapi kami akan terus bekerja sama dengan mereka. Buktinya mereka menjadi salah satu dari sebelas proyek kami. UNICEF sudah selayaknya keluarga. Kami telah bersama-sama selama beberapa tahun. ”

 



 

Nora T. Ayudha

 

back to top