Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Politik uang akan meningkat tahun ini

Politik uang akan meningkat tahun ini

Jogja-KoPi│Politik uang diprediksi akan meningkat lebih dari 50-60% tahun ini, setelah sebelumnya sebesar 48% di tahun 2009, Kamis (9/2).

Ketua LSI dan Pakar Komunikasi Politik, Kuskridho Ambardi, M.A, Ph.D dalam Analisis Demografis PILKADA di Indonesia, PUKAT, memprediksi bahwa politik uang akan selalu meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2009 diketahui terdapat sebesar 48% masyarakat Indonesia yang menerima politik uang.

“Kemungkinan besar pada tahun ini akan lebih dari 50-60%,” tuturnya.

Faktor politik uang dapat menjadi hal yang penting dalam situasi tertentu. “Politik uang akan menjadi penting ketika selisih jumlah suara antar kandidat kecil. Semakin kecil selisih suara antar kandidat, semakin penting politik uang,” katanya.

Sedangkan, selisih suara sendiri diperoleh kandidat dari survey. “Kandidat akan mengetahui berapa selisih suara yang akan diperolehnya dengan kandidat lain. Jika selisihnya kecil, maka kandidat akan menggunakan politik uang,” jelasnya.

Di sisi lain, terdapat akar kultural dan ekonomi yang tidak dapat dipisahkan dari politik uang. “APBD yang diambil untuk dibagikan ke masyarakat, untuk membantu masyarakat tidak dapat dikatakan sebagai korupsi. Pembagian kekayaan pribadi dan publik belum biasa dilakukan di Indonesia,” jelasnya lagi.

Untuk menekan politik uang diperlukan adanya kampanye besar-besaran dari KPK yang menyatakan bahwa politik uang adalah korupsi. “Perlu adanya kampanye besar-besaran dari KPK untuk menyatakan politik uang itu korupsi,” pungkasnya.

back to top