Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Politik narsisme dalam peringkat universitas

Source:www.abccopywriting.com Source:www.abccopywriting.com

Oleh: Cahyo Seftyono


Media online sungguh memberi manfaat dalam persebaran informasi aktual tentang pendidikan. Jauh sebelum media cetak merilisnya, mahasiswa saya justru telah memilikinya. Dia telah memosting pemeringkatan kampus dari Webometrics (webometrics.info) di grup Facebook program studi. Pemeringkatan Webometrics ini berbasis aksesibilitas terhadap sebuah institusi pendidikan melalui internet. 4ICU (lihat http://www.4icu.org/)  juga memiliki kriteria hampir serupa. Yakni, media internet dan database suatu kampus, baik itu kapasitas akademik sumber-sumber ilmiah maupun informasi yang bersifat umum.

Rilis Webometrics terbaru (2014) menempatkan 4 universitas paling bergengsi di Indonesia secara berturut-turut berada di peringkat 1000 besar dunia: UGM (414) menempati peringkat pertama di Indonesia, disusul UI (532), ITB (622), dan IPB (813). Jika dicermati, akan dapat ditemukan sekitar 401 kampus di Indonesia yang masuk radar Webometrics.

Kira-kira apakah yang dipikirkan oleh petinggi kampus-kampus kita atas ini semua ?. Barangkali sebagian orang akan berbangga hati dengan apa yang dianggap prestasi ini. Tapi, apakah ini benar-benar sebuah prestasi ? Ataukah, hanya bagian dari proses pencitraan kita tanpa henti ?

Jauh hari sebelum Webometrics (termasuk juga 4ICU) itu populer di Indonesia, kita sempat mengenal pemeringkatan kampus melalui keberadaan Shanghai Jiao Tong Survey (www.arwu.org) dan QS World University Rankings (lihat http://www.topuniversities.com). AWRU mulai merilis ranking universitas sejak 2003, sedangkan, QS merilis ranking pertama kali pada 2004 ketika masih bernama THES (Times Higher Education Supplements).

Shanghai Jiao Tong merupakan pemeringkatan yang dibuat oleh Shanghai Jiao Tong University di China dengan kriteria akademik ketat. Seperti, publikasi staff pengajar, hingga poin penghargaan apa saja yang pernah mereka peroleh. Termasuk parameter hadiah nobel. 

Jangan heran, dengan kriteria yang bisa dikatakan super ketat a la Shanghai Jiao Tong Survey ini, kampus-kampus di Indonesia tidak ada satupun yang pernah menembus peringkat 500 besar dunia. Setidaknya dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Sementara, QS yang dirilis Quacquarelli Symonds di atas sedikit lebih lunak karena memberikan porsi 'subjektifitas'. Semisal, adanya penilaian Employer/Recruiter Review yang berbobot 10%, Student Faculty Ratio (20%), dan juga International Factors (5%). Artinya, kekuatan ‘modal’ bermain di sini. Modal yang dimaksud ini beruapa kemampuan pendanaan merekrut staf internasional maupun membangun jejaring internasional. Ini ibarat politisi yang sedang melakukan branding politik.

Dalam peringkat QS, patut disyukuri dengan adanya beberapa kampus di Indonesia ada yang menembus kolom 500 besar dunia. Khusus ITB, UI dan UGM: ketiganya langganan kompetitor kampus-kampus top di regional Asia Tenggara (nir-Singapore). Ketiganya sangat ketat bersaing dengan Universiti Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia, Chulalongkorn Universiti, bahkan beberapa kampus Jepang, Eropa dan Australia. UNDIP, UNPAD, UNAIR, UNS, UNHAS dan yang lain juga masuk dalam radar QS, meskipun tingkat kompetitif-nya sedikit di bawah tiga kampus top Indonesia di atas. Sayangnya, pemeringkatan QS itu lambat laun mulai jarang dirilis di Indonesia, karena ranking-ranking kampus di Indonesia sering turun secara drastis.
Produk Ilmiah dan Politik Narsisme

Webometrics bukan tergolong pemeringkatan yang luar biasa. Pemeringkatannya bisa dikatakan minim bobot analisa akademik. Ini disebabkan pada penekanan yang terlalu berat pada akses internet ke masing-masing kampus. Bukan pada mutu ilmiah postingan yang ada, kecuali pada bagian artikel ilmiah.

Jika hasil Webometrics tersebut menjadi sandaran, maka berbagai kampus bisa sangat mudah merekayasanya. Strateginya berbekal merekrut dan mempekerjakan seorang ahli IT yang dapat memposisikan sebuah website Kampus beserta link-link penting lainnya selalu berada di halaman pertama google dan bisa membuat sistem yang seolah mampu mengakses website tersebut secara kontinyu. Titik. Tak perlu lagi bicara mutu dan kualitas akademiknya. Cukup mengandalkan jago-jagoan utak-atik logika binom. Dan Klik...! Jadilah kampusnya populer di dunia maya.

Jika kita mau sedikit legowo, ada parameter yang jauh lebih mudah dalam mengukur ranking. Kita dapat menggunakan patokan jumlah H-index dari setiap dosen/peneliti yang ada di sebuah kampus. H-index adalah indeks yang dipakai untuk mengukur produktivitas dan dampak nyata dari karya yang diterbitkan dari seorang dosen/peneliti. Indeks ini didasarkan pada set paper dosen/peneliti yang paling sering dikutip (cobalah download programnya di situs http://www.harzing.com/pop.htm).

Hanya saja, satu kelemahan metode ini adalah beberapa orang yang ingin menaikkan skornya dapat menggunakan metode self citation (mengutip sendiri) dalam setiap artikel yang ditulisnya. Setiap menuliskan artikel, si penulis selalu merujuk pada tulisannya yang sudah dahulu terbit (meskipun ini diperbolehkan). Ujungnya, h-index-nya akan selalu meningkat. Prinsipnya mudah: tulis sendiri, posting sendiri, kutip sendiri, sebarkan sendiri, dan narsislah sendiri.

Ada juga cara yang lebih sederhana. Misalnya, dengan menghitung jumlah publikasi dosen/peneliti di sebuah kampus yang ter-index Scopus atau ISI Thompson. Kedua index ini dapat digunakan karena memang keduanya merupakan standar internasional terhadap artikel-artikel ilmiah. Dan, kita juga bisa mengkategorisasikannya dalam skala kampus, peer groups, ataupun program studi. Barangkali, hal ini masih tergolong jauh lebih bermartabat daripada program H-index.

Karena mudahnya rangking H-index itulah, seorang guru besar ITB yang H-index-nya sudah mencapai 15 menulis di status Facebooknya begini: ‘Kita suka yang namanya ranking-rankingan untuk menutupi kelemahan kita atas prestasi’. Secara denotatif, kalimatnya ada benarnya. Karena, dari ranking itulah seseorang seakan-akan menjadi lebih hebat dibanding yang lainnya.

Secara konotatif, rangking itu hanya menumbuhkembangkan kepalsuan popularitas pendidikan tinggi, sementara kualitas penelitian dan kultur produktifitasnya kerap diabaikan. Saya pribadi pernah mengalaminya. Jangankan diapresiasi dan diberikan bantuan dana, karya publikasi seorang dosen muda saja justru kadangkala dianggap tidak memperhatikan nilai-nilai “etika”. Alasannya sederhana: karyanya dianggap terlalu cepat melangkah mendahului senior-seniornya. Dasar culas ! Sungguh keterlaluan ! Mari semua berbenah !
   
-Dosen di Prodi Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (Unnes), pernah menjadi Asisten Peneliti di Universitas Kebangsaan Malaysia dan Asian Public Intellectual Regional Malaysia (Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

back to top