Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Polda DIY: Polisi tidak istimewakan moge, polisi profesional

Polda DIY: Polisi tidak istimewakan moge, polisi profesional

Jogjakarta-KoPi| Beberapa hari yang lalu masyarakat Jogja digegerkan dengan aksi pesepeda, Elanto Wijoyono (32tahun) menghadang konvoi moge (motor gede). Elanto gerah dengan aksi moge yang melanggar lalu lintas seperti penerabasan lampu merah di perempatan Condongcatur.

Menurut Sekretaris Panitia Jogja Bike Rendezvous (JBR) 2015, Denizar Rahman, tidak ada perlakuan khusus kepada konvoi moge. Konvoi moge dalam rangkaian acara JBR sebelumnya telah berkoordinasi dengan pihak Dinas Perhubungan DIY dan Kepolisian.

“Dari awal kita koordinasi dengan Dishub dan Kepolisian, artinya kita serahkan ke mereka, Mbak, untuk kawalan konvoi diterobos lampu merah atau tidak, selama itu dikawal sama petugas berwenang kita mengikuti saja, tapi kalau tidak dikawal artinya bersifat sporadis sendiri-sendiri sama perlakuannya dengan pengguna motor biasa gak boleh menerobos lampu merah,” jelas Denizar disela acara JBR 2015 di Jogja City Mall pukul 10.00 WIB.

Secara terpisah pihak Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pudjiastuti membenarakan pihak JBR 2015 bahwa mereka telah memohon pengawalan terhadap konvoi mereka dari salah satu hotel Sleman menuju Prambanan. Dalam pengawalan konvoi AKBP Any menampik adanya perlakuan khusus kepada konvoi Moge JBR 2015.

“Tidak ada perlakuan istimewa, Mbak, sesuai tugas pokok POLRI dalam melayani masyarakat,” tulis AKBP Any melalui pesan singkat pukul 14.00 WIB.

AKBP Any menambahkan pihak kepolisian bertindak profesional dan tidak diskrimasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Kita tetap proporsional sesuai dengan aturan yangg ada manakala ada event dan mengajukan permintaan pengawalan akan kita layani. Tidak hanya bikers atau Moge tapi juga event event fun bike atau sepeda ataupun olah raga jalan kaki bahkan kalau yang tidak dimintapun kita layani contoh arak arakan kendaraan yang akan memakamkan jenazah.

Tujuan pengawalan itu sendiri adalah demi kepentingan umum agar terwujud lancar lantas dan pengguna jalan lain masyarakat tetap bisa nyaman dalam mengendarai kendaraan,” tulis AKBP Any.

Sementara dikutip dari website pribadinya http://www.rappler.com/, Elanto Wijoyono menjelaskan dua alasan dirinya menghadang moge.

“Saya punya dua alasan untuk melakukan pencegatan. Pertama, penggunaan pengawalan sudah diatur di Undang-Undang No 22 tahun 2009 mengenai siapa saja yang berhak mendapatkan hak utama menggunakan jalan. Rombongan motor tidak termasuk salah satunya,” tulisnya.

Dari sisi legal, mungkin mereka bisa mencari alasan pembenaran, tapi dari sisi kepatutan, kami sebagai warga memandang itu sebagai penyalahgunaan.

Kedua adalah soal konvoinya. Konvoi apapun, tidak hanya moge. Cenderung ada pelanggaran pada konvoi, seperti konvoi parpol, konvoi suporter dan sebagainya, baik dengan pengawalan maupun tidak.

“Seperti yang saya sering lihat di jalan, khususnya di Jogja, pelanggaran cenderung dibiarkan oleh polisi dari tahun ke tahun, dan malah diberi ruang lebih luas di jalan raya dengan meminggirkan hak pengguna jalan lain. Dari dua hal itu, sasaran tembak kritiknya memang polisi,” tulisnya.
|Winda Efanur FS|

back to top