Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Petualangan penyelundup heroin Bali Nine

Petualangan penyelundup heroin Bali Nine
KoPi| Kasus Bali Nine merupakan salah satu tangkapan heroin terbesar yang dilakukan polisi Indonesia. Bali Nine merupakan sebutan sembilan orang warga negara Australia yang terlibat penyelundupan heroin seberat 8,3 kg pada tahun 2005 di Bali. Mereka adalah Andrew Chan, Si Yi Chen, Michael Czugaj, Renae Lawrence, Tan Duc Thanh Nguyen, Matthew Norman, Scott Rush, Martin Stephens, dan Myuran Sukuraman.
 

Polisi Indonesia mendapat informasi mengenai upaya penyelundupan tersebut dari pihak polisi federal Australia. Polisi menyebut operasi mereka sangat rapi. Sembilan orang tersebut berangkat ke Bali secara terpisah dan beberapa orang tidak pernah bertemu dengan anggota lain hingga mereka tertangkap. Bahkan polisi awalnya tidak tahu mengenai peran Sukuraman dalam kelompok tersebut. mereka mengira Sukuraman merupakan bodyguard Chan. Belakangan diketahui Chan dan Sukuraman merupakan pemimpin dari kelompok itu.

Chan dan komplotannya ditangkap di Bandara Internasional Ngurah Rai, ketika hendak kembali ke Australia. Barang bukti berupa heroin seberat 8,3 kg ditemukan terikat pada tubuh mereka. Heroin tersebut disuplai oleh Cherry Likit Bannakorn, perempuan warga negara Thailand dan buronan Interpol.

Sembilan orang tersebut kemudian ditindak dengan hukum Indonesia melalui pengadilan negeri Denpasar. Pengadilan negeri mengganjar mereka dengan hukuman penjara seumur hidup dan hukuman mati. 

Setelah melalui upaya banding hingga ke MA, hukuman mereka tidak banyak berubah. Chan dan Sukuraman tetap dijatuhi hukuman mati, sedangkan Chen, Czugaj, Nguyen, Norman, Rush, dan Stephens dijatuhi penjara seumur hidup. Hanya Lawrence yang mendapat hukuman 20 tahun penjara dari putusan MA. Permnohonan amnesti Chan dan Sukuraman telah ditolak oleh Joko Widodo pada 2015 ini. Dalam waktu dekat, Chan dan Sukuraman akan segera menghadapi regu tembak.

Beberapa fakta mengenai Bali Nine tidak diinformasikan pihak Australia dalam persidangan karena mereka khawatir hal itu dapat memberatkan hukuman tersangka. Beberapa hal tersebut antara lain tindak kejahatan yang pernah dilakukan beberapa orang anggota Bali Nine sebelumnya. 

Di antaranya, Rush pernah ditahan karena kasus kepemilikan obat-obatan, penipuan, dan pencurian. Czugaj juga pernah ditahan karena kasus pencurian, pelanggaran lalu lintas, dan perusakan. 

Sementara Lawrence dan Norman pernah ditahan karena kasus pencurian mobil. Lawrence dan Chan akhirnya juga mengakui sebelumnya pernah berhasil menyelundupkan heroin dari Bali ke Australia.| Dari berbagai sumber

 

back to top