Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Petani tunggu respons pemerintah atasi kekeringan

Petani tunggu respons pemerintah atasi kekeringan
Surabaya - KoPi | Bulan Juli seharusnya menjadi masa saat petani merawat tanaman mereka yang baru tumbuh. Namun, kebiasaan tersebut akhir-akhir ini semakin susah dilakukan. Kekeringan menghambat rencana mereka dan menimbulkan penderitaan bagi petani Indonesia.
 

Penderitaan yang dialami petani tersebut diungkapkan oleh Serikat Petani Indonesia (SPI). Di berbagai wilayah di Indonesia, tanaman petani mengalami puso. SPI meminta pemerintah untuk segera merespon krisis yang dialami oleh para petani tersebut. 

"Dana talangan panen, tanaman yang puso, harus segera diganti oleh pemerintah. Kekeringan adalah bencana alam, harus direspon cepat agar petani aman berproduksi," ujar Ketua SPI Henry Saragih di Surabaya. SPI juga meminta agar pemerintah menerbitkan data akurat mengenai seberapa luas area yang menderita kekeringan.

Henry menyarankan untuk saat ini pemerintah melakukan penanganan jangka pendek dengan membagikan pompa air bagi petani. Bantuan tersebut harus merata, karena biaya menyewa pompa di pedesaan cukup mahal.

BMKG menyatakan, kekeringan yang melanda Indonesia akhir-akhir ini merupakan akibat dari El Nino yang terus menguat. Mereka memperkirakan musim kemarau di beberapa tempat di Indonesia akan semakin panjang dan menguat mulai Agustus hingga Desember. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan saat ini ada 25.000 hektar tanaman petani yang mengering. Sedangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) menyarankan agar petani tidak menanam padi di musim ini

Akibatnya, sudah ada 8 daerah yang dilaporkan mengalami bencana kekeringan, antara lain Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara.

Untuk mengatasi bencana kekeringan ini, Presiden Joko Widodo dilaporkan akan membagikan pompa air di daerah yang dilanda kekeringan. Selain itu, untuk penanganan jangka panjang, Presiden akan membangun ribuan embung atau waduk buatan.

back to top