Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pertalite Pertamina, upaya halus kapitaslisasi BBM ?

Pertalite Pertamina, upaya halus kapitaslisasi BBM ?

Jogjakarta-KoPi| Sekitar Mei 2015 Pertamina berencana meluncurkan varian bahan bakar baru, Pertalite.  Dilihat dari unsurnya Pertalite memiliki angka oktan 90 (RON 90) berbeda dengan Premium yang memiliki angka oktan sebesar 88 (RON 88).

Menurut peneliti PSE (Pusat Studi Energi) UGM Prof. Arif Budiman Peluncuran Pertalite ini secara tidak langsung memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan harga baru. Pasalnya level Pertalite lebih tinggi daripada Premium saat ini.

“Sebenarnya kalau harga ini Pertamina punya rumus harga. Bisa dihitung dari biaya produksi, ditambah pertamina mau ambil harga berapa. Berbeda dengan pertamax yang mengikuti harga pasar “, paparnya.

Prof. Arif juga mengakui adanya Pertalite ini kemungkinan suatu bentuk pengalihan dari Premium. Premium dengan subsidi sekarang Rp 7.600, sedangkan pertamax tanpa subsidi Rp 8.600.

“Bisa jadi ini pengalihan dari Premium ke Pertamax jadi kira-kira harganya di antara mereka untuk perlahan mengalihkan ke Pertamax masyarakat digiring ke sana, untuk melepas subsidi”, kata Prof. Arif.

Sementara ini pasaran minyak semakin kompetitif. Di Jakarta saja sudah banyak berdiri SPBU asing seperti Petronas. Petronas harganya lebih mahal daripada pertamina. Tetapi tidak menutup kemungkinan ketika pemerintah melepas subsidi BBM, Pertamina tidak bisa bersaing.

"Namanya globaslisasi, harapan mereka ingin berbisnis di Indonesia, seperti Petronas atau Shael, tapi karena di Indoenesia lebih murah (subsidi) mereka gak laku, ini lebih ke kompromi ke pemerintah juga", pungkas Prof. Arif

|Roihatul Firdaus, Winda Efanur FS|



back to top