Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Pernyataan Kementerian Pertanian Indonesia surplus beras, tidak sesuai fakta

Pernyataan Kementerian Pertanian Indonesia surplus beras, tidak sesuai fakta

Bogor-KoPi| Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) melalui ketua umumnya Prof. DR. Dwi Andreas Santosa menyatakan pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melakukan kesalahan data yang mengakibatkan harga pangan terutama beras terus meningkat naik.

Pernyataan Kementerian Pertanian bahwa terjadi surplus beras dan kenaikan produksi sebesar 5,85% (BPS ARAM II, ARAM I 6,64%), kenaikan produksi jagung sebesar 4,34 % (ARAM I 8,72%), kedelai 2,93% (ARAM I 4,59%) dan tanaman lainnya pada tahun 2015 ini ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di lapang.

Berdasarkan laporan anggota AB2TI di lapang terjadi penurunan produksi di hampir semua lokasi di banding tahun sebelumnya. Sebanyak 84,6 % wilayah dimana AB2TI terdapat perwakilannya dilaporkan terjadi penurunan produksi padi pada kisaran 15 % hingga 40 % dibanding tahun 2014, sisanya normal atau mengalami kenaikan.

Kesalahan data produksi ini yang menyebabkan harga pangan terutama beras terus meningkat sejak bulan Mei dan saat ini telah melampaui harga tertinggi di bulan Maret. Harga beras medium rata-rata nasional telah mencapai Rp 10.552 per kg (19/11/2015) jauh melampaui harga keekonomian sebesar Rp 8.500 – Rp 9.000 per kg. Sayangnya harga beras yang melonjak tinggi tersebut tidak dinikmati sebagian besar petani.

back to top