Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Perempuan menderita akibat kerusakkan hutan

Perempuan menderita akibat kerusakkan hutan

Jogja-KoPi| Kerusakan hutan tidak hanya menyebabkan bencana alam, namun juga berdimensi gender. Perempuan menjadi salah satu korban yang menderita akibat kerusakan hutan, dikarenakan perempuan memiliki fungsi reproduksi, konsumsi dan produksi. Aksi pengrusakan hutan berbanding lurus dengan penderitaan yang dirasakan perempuan.

“Kerusakan lingkungan korbannya semua orang, tapi perempuan itu lebih menderita karena memiliki fungsi reproduksi, konsumsi, dan produksi yang berbeda dengan laki-laki,” jelas Bernadus Wibowo Suliantoro, Peneliti Model Pengelolaan Hutan Wonosadi Berbasis Kearifan Lokal Kajian dari Prespektif Etika Ekofemisme.

Fungsi reproduksi perempuan berbeda dengan laki-laki, perempuan mengalami masa menstruasi, melahirkan dan menyusui. Dalam situasi tersebut wanita membutuhkan banyak air dibandingkan laki-laki. Kelangkaan air yang terjadi memberikan penderitaan yang lebih kepada perempuan serta anaknya.

Menurut Bernadus Wibowo Suliantoro, kelangkaan air yang terjadi akibat pengerusakan hutan akan berdampak pada jumlah air yang tersedia, korban dari kelangkaan air ini tidak hanya perempuan namun juga anak mereka. Hal ini dikarenakan kurangnya air yang dikonsumsi perempuan sehingga berakibat pada ASI yang tidak maksimal.

Penggundulan hutan juga mengakibatkan debit mata air warga menyusut, sehingga menambah beban perempuan dalam melaksanakan peran domestik yang melekat pada dirinya. Perempuan harus berusaha mencari air untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Hal yang serupa terjadi di desa Beji, Ngawen, Gunung Kidul, ketika beberapa perempuan terpaksa harus berjalan beberapa kilo untuk mendapatkan air guna keperluan mencuci, memasak, mandi, minum, serta dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari akibat penggundulan hutan Wonosadi yang terjadi pada tahun 2014.

Perempuan yang memiliki fungsi produksi yang berbeda dengan laki-laki juga menjadi salah satu penyebab penderitaannya. Pasalnya, perempuan mengolah apa yang tersedia di alam menjadi barang yang berguna dan memiliki nilai jual ketika ia ditinggal suaminya merantau untuk bekerja. Perempuan memanfaatkan apa saja yang ada di alam untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya.

Dalam segi fungsi konsumsi, kebutuhan yang dikonsumsi perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Perempuan mengkonsumsi apa saja yang ada di alam, salah satunya yaitu tumbuhan yang digunakan obat oleh perempuan untuk merawat alat reproduksinya. Kerusakan hutan yang terjadi berakibat pada matinya tanaman-tanaman obat yang digunakan perempuan untuk menyembuhkan penyaki-penyakit yang dideritanya sehingga menambah deritanya dalam bidang ekonomi.

Perempuan merupakan salah satu alasan yang harus diperhatikan ketika terjadi perusakan hutan. Harmonisasi dalam keselarasan antara manusia dengan sesama alam merupakan fondasi yang kokoh untuk mewujudkan keadilan gender dan kelestarian hutan.│Frenda Yentin

back to top