Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Perempuan menderita akibat kerusakkan hutan

Perempuan menderita akibat kerusakkan hutan

Jogja-KoPi| Kerusakan hutan tidak hanya menyebabkan bencana alam, namun juga berdimensi gender. Perempuan menjadi salah satu korban yang menderita akibat kerusakan hutan, dikarenakan perempuan memiliki fungsi reproduksi, konsumsi dan produksi. Aksi pengrusakan hutan berbanding lurus dengan penderitaan yang dirasakan perempuan.

“Kerusakan lingkungan korbannya semua orang, tapi perempuan itu lebih menderita karena memiliki fungsi reproduksi, konsumsi, dan produksi yang berbeda dengan laki-laki,” jelas Bernadus Wibowo Suliantoro, Peneliti Model Pengelolaan Hutan Wonosadi Berbasis Kearifan Lokal Kajian dari Prespektif Etika Ekofemisme.

Fungsi reproduksi perempuan berbeda dengan laki-laki, perempuan mengalami masa menstruasi, melahirkan dan menyusui. Dalam situasi tersebut wanita membutuhkan banyak air dibandingkan laki-laki. Kelangkaan air yang terjadi memberikan penderitaan yang lebih kepada perempuan serta anaknya.

Menurut Bernadus Wibowo Suliantoro, kelangkaan air yang terjadi akibat pengerusakan hutan akan berdampak pada jumlah air yang tersedia, korban dari kelangkaan air ini tidak hanya perempuan namun juga anak mereka. Hal ini dikarenakan kurangnya air yang dikonsumsi perempuan sehingga berakibat pada ASI yang tidak maksimal.

Penggundulan hutan juga mengakibatkan debit mata air warga menyusut, sehingga menambah beban perempuan dalam melaksanakan peran domestik yang melekat pada dirinya. Perempuan harus berusaha mencari air untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Hal yang serupa terjadi di desa Beji, Ngawen, Gunung Kidul, ketika beberapa perempuan terpaksa harus berjalan beberapa kilo untuk mendapatkan air guna keperluan mencuci, memasak, mandi, minum, serta dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari akibat penggundulan hutan Wonosadi yang terjadi pada tahun 2014.

Perempuan yang memiliki fungsi produksi yang berbeda dengan laki-laki juga menjadi salah satu penyebab penderitaannya. Pasalnya, perempuan mengolah apa yang tersedia di alam menjadi barang yang berguna dan memiliki nilai jual ketika ia ditinggal suaminya merantau untuk bekerja. Perempuan memanfaatkan apa saja yang ada di alam untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya.

Dalam segi fungsi konsumsi, kebutuhan yang dikonsumsi perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Perempuan mengkonsumsi apa saja yang ada di alam, salah satunya yaitu tumbuhan yang digunakan obat oleh perempuan untuk merawat alat reproduksinya. Kerusakan hutan yang terjadi berakibat pada matinya tanaman-tanaman obat yang digunakan perempuan untuk menyembuhkan penyaki-penyakit yang dideritanya sehingga menambah deritanya dalam bidang ekonomi.

Perempuan merupakan salah satu alasan yang harus diperhatikan ketika terjadi perusakan hutan. Harmonisasi dalam keselarasan antara manusia dengan sesama alam merupakan fondasi yang kokoh untuk mewujudkan keadilan gender dan kelestarian hutan.│Frenda Yentin

back to top