Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Perempuan berpakaian ketat dan berkerudung kecil, dipolisikan

Perempuan berpakaian ketat dan berkerudung kecil, dipolisikan

Iran-KoPi, Ratusan orang berdemo di ibu kota Iran pada hari Sabtu (12/7) menuntut televisi pemerintah mengenai “budaya berkerudung dan gaya berkerudung” dalam program TV tersebut.

Para demonstran mengecam adanya perempuan-perempuan yang “gaya kerudungnya buruk” dalam sebuah opera dan mengatakan perempuan-perempuan yang memakai pakaian tradisi (pakaian yang longgar yang menutup seluruh badan dan menggunakan cadar) selalu dianggap perempuan yang miskin dan tidak terdidik.

Di bawah hukum islam di Iran sejak revolusi tahun 1979, para perempuan harus menggunakan baju yang longgar dan hijab, kerudung yang menutup rambut dan leher.

Polisi “moral” bertanggung jawab untuk menegakkan hukum tersebut, dan bisa menjatuhkan denda atau menangkap siapa saja yang menolaknya.

Tapi tahun-tahun terakhir-terakhir ini banyak perempuan yang memakai kerudung kecil atau pendek yang hanya menutupi rambutnya saja, bercelana ketat dan pakain yang hanya menutupi hanya sampai pahanya saja, bukan memakai pakaian panjang atau cadar.

“Hukum tersebut harus dihormati jika kemurnian masyarakat ingin dijaga,” demostran Fatemeh Rahmani mengatakan pada AFP.

Perempuan lain, Zeinab Moeini, mengatakan “Polisi “moral” harus menagkap perempuan yang membuat masalah dan “hijabnya buruk” dalam masyarakat Iran.

Di bulan Juni, 195 orang konservatif yang juga menguasai parlemen menuliskankan kepada Presiden Rahwani yang menuntut agar memperketat undang-undang kode etik berpakaian tersebut, dengan mengecam apa yang mereka sebut dengan “invasi budaya” Barat.

Rohwani, seorang moderat yang terpilih menjadi presiden setelah mengkampanyekan tentang budaya dan kebebasan sosial dalam negara republik tersebut.

Di bulan Oktober, dia menyuruh polisi agar menjadi moderat ketika menegakkan syarat-syarat hijab tersebut.

Dia juga mengatakan bahwa “kita tidak bisa membawa orang-orang ke surga dengan menggunakan cambuk,” sebuah ucapan yang dikutuk oleh para konservatif.

(Fahrurrazi)
Sumber: al-Arabiya News

back to top