Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Perawatan heritage di Jogja tidak serius

Perawatan heritage di Jogja tidak serius

Amanah UU Nomor 13 tahun 2012 tentang keistimewaan Yogyakarta menjadi tugas wajib Pemda DIY. Pasalnya legitimasi UU tersebut mewujudkan nuansa keistimewaan Yogyakarta melalui wajah kebudayaan. Aplikasi kebudayaan inilah yang diharapkan mampu mensejahterakan masyarakat Yogyakarta.

Jogjakarta-KoPiӀ Namun, sayang sekali, tampaknya pihak Pemda DIY tidak terlalu memikirkan situs-situs yang bernilai heritage. Pihak pemda gagal menerjemahkan amanah undang-undang dengan baik. Dalam konsep tata ruang kota, masyarakat tidak melihat Jogja menjadi lebih anggun dan cantik, tetapi semakin semarwut dengan hotel dan sampah visual seperti baliho dan lain-lain.

Saat ini, pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) pada aktivitas seni dan bangunan fisik. Terutama untuk bangunan bernilai heritage mendapat perhatian lebih dari pihak pemda DIY. Bahkan pihak pemda fokus menata kembali empat wilayah heritage di kawasan Malioboro- Kraton, Kotabaru, Kotagedhe, dan Pakualaman.

Sayangnya, masyarakat juga belum melihat hasilnya secara ideal. Bahkan, konon, terdengar isu Gedung depan Stasiun Tugu akan diproyeksikan menjadi mall. Seorang aktivis kebudayaan, menyebut mall itu akan dibuat subway yang menembus Malioboro dan Stasiun Tugu.

“Sayang sekali,” katanya,” seharusnya gedung itu bisa dijadikan ruang kebudayaan yang mencerminkan Jogjakarta yang Istimewa, bukannya mall.”

Redefinisi heritage

Menurut pemerhati heritage RM. Cahyo Bandhono perlu meredefinisi istilah heritage. Selama ini kita berlandaskan pada UU No 10 tahun 2010 tentang cagar budaya. Heritage merupakan benda hasil karya manusia. Salah satu poinnya bangunan disebut heritage minimal berusia 50 tahun. 

Cahyo Bandhono mengatakan, pihak pemerintah telah membeli lima bangunan heritage seperti bangunan di komplek Jalan Panembahan dekat Gudeg Yu Jum, dua bangunan di Alun-Alun Selatan,  bangunan di Gondomanan, Bausasran, dan Timoho.

“Selanjutnya untuk fungsi bangunan yang dibeli belum pasti entah mau dijadikan seperti apa, atau museum tidak tahu. Tapi kalau dari segi teknis bangunan herritage tidak boleh berubah. Tetap dipertahankan dan boleh menambah bangunan di sekitar itu, ”, kata RM. Cahyo.

Salah satu bangunan yang mencerminkan heritage menurut RM. Cahyo adalah Hotel Ambarrukmo. Segi fisik hotel Ambarrukmo yang dulunya mengalih fungsikan situs sejarah menjadi hunian. Namun tidak meninggalkan ciri khas dan karakter dari bangunan situs.

“Banyak bangunan di Yogyakarta namun tidak mencerminkan corak Yogyakarta, bisa dikatakan untuk kawasan Kotabaru bernuansa bangunan Belanda, itu termasuk heritage namun bangunan sekitar bangunannya beda. ”

RM. Cahyo menambahkan bukan hanya perubahan model heritage yang berubah tetapi juga banyak heritage yang hancur tak terawat. Untuk heritage situs di Jogja banyak yang terlantar misalnya pesanggrahan Warung Boto, bahkan master arsitektur UNDIP ini juga memiriskan nasib situs Pleret.

“Situs di Pleret sudah hilang padahal situs terbesar kerajaan Mataram, sangat memprihatinkan. Situs-situs sekarang memang dibuat, kebanyakan cagar budaya hanya mempotting dan mapping selanjutnya menjadi rumah hantu atau museum mati. Bagusnya situs itu dihidupkan dengan herritage partisipasif masyarakat. ” kritik RM. Cahyo. ӀWinda Efanur FS

back to top